Pasalnya, beberapa studi telah menemukan bahwa ketika seseorang tinggal dekat menara BTS atau GSM jaringan 3G atau 4G, peluang terjadi kanker naik hingga 3-4 kali lipat.
Jika gelombang 3G atau 4G saja menimbulkan dampak seserius itu, apa yang kemungkinan terjadi pada banyak orang apabila 5G diimplementasikan—yang intensitasnya 10 hingga 30 kali lipat dari 4G?
Pakar frekuensi radio internasional dari Universitas Helsinki, Profesor Dariusz Leszczynski, dalam kuliah umum di Universitas Griffith, Brisbane, Australia, pada 17 Agustus 2017 silam, telah memperingatkan mengenai kurangnya pemahaman tentang efek frekuensi seluler terhadap kesehatan.
Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh situs resmi Universitas Helsinki, disebutkan bahwa teknologi 5G bisa menembus kulit hingga kedalaman 8 milimeter.
“Kita hanya tahu bahwa radiasi ini menembus kulit terdalam. Kita tak tahu betul bagaimana kulit yang berfungsi normal akan terpengaruh,” kata Prof. Leszczynski, dikutip Senin (29/4/2024).
Leszczynski adalah satu dari 30 pakar di tim penelitian internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 yang mengklasifikasikan semua emisi frekuensi radio sebagai kemungkinan karsinogen—atau zat yang menjadi penyebab kanker.
“Tampaknya, kita mengalami dejavu, karena pada awal 1980-an, kita berpikir bahwa teknologi pemancar berdaya rendah akan aman, tidak ada masalah. Namun, tiga puluh tahun kemudian tampaknya itu mungkin bersifat karsinogenik,” ujar Leszczynski.





