Tekan Angka Perceraian, Kemenag Dorong Literasi Ekonomi Syariah untuk Calon Pengantin

Ilustrasi konflik rumah tangga. - Istimewa

Ia menjelaskan bahwa sistem keuangan syariah menyediakan instrumen yang lebih transparan dan berkeadilan — dari tabungan syariah hingga pembiayaan mikro.

“Jika calon keluarga memahami prinsip syariah seperti akad yang jelas, larangan riba, pengelolaan risiko, dan kewajiban keadilan, maka mereka akan lebih siap membangun rumah tangga yang sehat secara finansial,” tambah Imam.

Penguatan literasi ekonomi syariah juga sejalan dengan Asta Protas Kemenag, khususnya program pemberdayaan ekonomi umat dan layanan keagamaan berdampak.

Bacaan Lainnya
Peran KUA dan Edukasi Manajemen Utang Sehat

KUA menjadi garda terdepan. Di sinilah materi literasi ekonomi syariah akan dibumikan kepada calon pengantin.

Modul yang disiapkan tidak ditujukan untuk membuat catin menjadi ahli keuangan, tetapi memberikan dasar yang cukup agar mereka tidak salah langkah sejak awal.

Menurut Imam, integrasi literasi ekonomi syariah dalam bimwin bisa mencakup edukasi pengelolaan keuangan keluarga, pemahaman akad-akad syariah, manajemen utang sehat dan bahaya pinjol, menabung dan investasi syariah, hingga perencanaan jangka panjang.

“Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah ekonomi jangka pendek, tetapi menguatkan mindset keluarga muda agar lebih bijak, hemat, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Kemenag memastikan kurikulum bimwin akan terus diperbarui. Targetnya jelas: menurunkan angka perceraian, mencegah keluarga muda terjerat pinjol, dan menyiapkan generasi baru yang lebih cerdas secara finansial.

Upaya ini sederhana namun dampaknya panjang. Keluarga yang paham mengelola uang sejak hari pertama pernikahan akan lebih siap menghadapi tekanan hidup. Dan di banyak kasus, kesiapan itulah yang mencegah rumah tangga retak sebelum lima tahun pertama. ***

Pos terkait