PBNU mendesak Kemenag mematuhi kriteria MABIMS untuk penentuan Syawal 1447 H di tengah isu manipulasi hilal demi keseragaman.
Potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kembali menjadi sorotan. Tahun ini, publik kembali memantau apakah Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Pemerintah akan merayakan Lebaran secara serentak pada 20 Maret 2026 atau justru berbeda hari.
Menjelang sidang isbat, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) memberikan peringatan keras. Data hisab dari LF PBNU, Kementerian Agama (Kemenag), dan BMKG menunjukkan bahwa posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 masih berada di bawah kriteria imkanur rukyah MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dugaan Manipulasi Data demi Keseragaman
Katib Syuriyah PBNU, KH Sarmidi Husna, meminta Kemenag transparan dan konsisten berpegang pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 1 Tahun 2026 yang mengadopsi kriteria MABIMS. Ia menegaskan, kriteria tersebut harus menjadi syarat mutlak untuk menerima kesaksian penglihatan hilal (rukyatul hilal).
Sarmidi bahkan mensinyalir adanya upaya manipulasi data hisab demi memaksakan penyatuan 1 Syawal 1447 H. Ia menyebut pihak tertentu mencoba mengubah kesepakatan batas elongasi menjadi 6 derajat karena tinggi hilal di Sabang, Aceh, sudah mendekati 3 derajat, meski elongasinya belum memenuhi syarat.
”Kami sangat berharap kepada Kemenag untuk transparan dan konsisten terhadap kesepakatan MABIMS. Disinyalir ada upaya mengirimkan tim rukyah dari Jawa ke Aceh untuk mendapatkan hasil ‘pesanan’ agar hilal terlihat, meskipun datanya tidak valid,” ujar Sarmidi.
Data PBNU: Posisi Hilal Belum Penuhi Syarat
Ketua LF PBNU, KH Sirril Wafa, turut menepis kabar yang menyebut Idul Fitri 1447 H pasti jatuh pada 20 Maret 2026. Ia menilai manuver untuk memajukan 1 Syawal dengan mengotak-atik angka pasti merupakan tindakan yang melanggar kesepakatan.
Data Falakiyah mencatat, pada 19 Maret 2026, tinggi hilal terbesar di Indonesia hanya terjadi di Kota Sabang dengan tinggi 2 derajat 53 menit dan elongasi 6 derajat 09 menit. Angka ini mutlak belum memenuhi kriteria MABIMS. Di markas PBNU Jakarta, tinggi hilal bahkan baru mencapai 1 derajat 43 menit dengan elongasi 5 derajat 44 menit.





