Sunan Kudus (2): Dakwah Kompromis melalui “Diplomasi Sapi” dan Perpaduan Arsitektur Hindu-Buddha-Islam

Dalam Buku Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) karya Yoyok Rahayu Basuki, diceritakan bahwa suatu hari Sunan Kudus membeli sapi yang pernah disebut sebagai kebo gumarang. Sapi itu didatangkan dari India. Sunan Kudus memelihara sapi itu di pekarangan rumahnya. Masyarakat Kudus, yang saat itu mayoritas beragama Hindu, tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus terhadap sapi tersebut.

Dalam agama Hindu, sapi adalah hewan suci untuk kendaraan para dewa. Maka dari itu, banyak masyarakat Kudus yang beragama Hindu datang ke pekarangan rumah Sunan Kudus untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap hewan yang mereka anggap suci tersebut. Hingga pada akhirnya Sunan Kudus bercerita jika dia pernah diselamatkan oleh seekor sapi. Dia juga melarang masyarakat Kudus menyembelih sapi.

Banyak masyarakat Hindu yang kagum dengan kisah Sunan Kudus tersebut. Bahkan, mereka menyangka Sunan Kudus adalah titisan Dewa Wisnu. Maka dari itulah mereka bersedia mendengarkan ceramah Sunan Kudus, hingga akhirnya banyak masyarakat Kudus yang memutuskan memeluk agama Islam.

Bacaan Lainnya

Strategi Sunan Kudus benar–benar ampuh. Dalam waktu singkat Islam bisa diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Kudus. Dan hingga saat ini, warga kudus masih mempertahankan adat tak menyembelih sapi pada Hari Raya Idul Adha. Semua itu tak lepas dari upaya dakwah Sunan Kudus yang lebih mengutamakan toleransi dan harmoni daripada konflik.

Sate kerbau, kuliner khas Kudus warisan ajaran toleransi Sunan Kudus yang masih lestari hingga kini. (SF)

 

Sunan Kudus mendapat gelar Wali Al-‘Ilmi, berarti orang yang memiliki ilmu luas, di mana gelar tersebut diberikan oleh Majelis Wali Songo. Sunan Kudus mengajarkan Islam dengan cara-cara yang toleran. Selain berkompromi dengan sapi, toleransi itu juga ditunjukkannya ketika merancang Menara Kudus. Gaya arsitektur bangunan menara tersebut memiliki corak agama Islam dan Hindu.

Dikutip dari jurnal Indo-Islamika UIN Jakarta, Sunan Kudus menggunakan empat pendekatan dalam menyebarkan agama Islam. Pertama, dia melakukan pendekatan secara perlahan dengan membiarkan adat istiadat yang ada di masyarakat, lalu mengubahnya sedikit demi sedikit. Dia mengedepankan jalan damai dan menghindari perpecahan selama berdakwah.

Kedua, Sunan Kudus menghormati masyarakat Hindu. Untuk menarik simpati mereka, dia melarang masyarakat menyembelih sapi. Ketiga, Sunan Kudus menarik perhatian masyarakat Buddha dengan memberikan nuansa agama tersebut pada setiap arsitektur bangunan—seperti pada bangunan Menara Kudus. Menara itu memiliki corak bangunan Hindu-Buddha-Islam sampai saat ini. Keempat, Sunan Kudus memasukkan unsur-unsur Islami pada setiap ritual masyarakat Jawa.

Pos terkait