Sunan Kudus membuat padasan atau tempat wudhu dengan delapan pancuran. Pada bagian atas masing-masing pancuran dipasang ornamen arca kepala kebo gumarang. Desain ini mirip dengan falsafah ajaran Budha bernama Jalan Berlipat Delapan atau Sanghika Marga, yaitu :
- Pandangan yang benar (Samma-Ditthi);
- Pikiran yang benar (Samma-Sankappa);
- Berkata yang benar (Samma –Vaca):
- Perbuatan yang benar (Samma-Kammanta);
- Pekerjaan dengan benar (Samma-Ajiva);
- Usaha dengan betul (Samma-Vayama);
- Kesedaran yang betul (Samma-Sati); dan
- Tumpuan yang betul (Samma-Samadhi).
Dia mengajak masyarakat setempat yang belum memeluk Islam untuk masuk ke masjid. Namun, sebelum masuk, mereka harus membasuh kaki dan tangannya di kolam yang sudah disediakan. Kebijakan harus membasuh tangan dan kaki ini rupanya ditolak oleh masyarakat yang beragama Hindu dan Budha. Inilah salah satu kesalahan strategi di awal dakwah Sunan Kudus. Dia bermaksud memperkenalkan syariat berwudhu kepada masyarakat, tetapi masyarakat malah menjauh.
Namun Sunan Kudus tidak putus asa. Pada kesempatan lain dia kembali mengundang masyarakat. Kali itu mereka tidak usah membasuh tangan dan kakinya waktu masuk masjid. Hasilnya ternyata luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya. Ketika itulah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama Islam secara halus dan menyenangkan rakyat.
Setelah berhasil menarik umat Hindu ke dalam agama Islam dengan sikap yang toleran—salah seperti menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu dan membangun menara masjid mirip dengan candi Hindu—Sunan Kudus bermaksud menarik perhatian umat Buddha. Untuk itu, Sunan Kudus memasang lambang wasiat Buddha itu di padasan, sehingga masyarakat yang bergama Buddha berdatangan ke masjid untuk mendengarkan penjelasan Sunan Kudus.
Denny Nur Hakim, Staf Dokumentasi dan Sejarah Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) mengatakan, kesohoran Sunan Kudus terletak pada kepiawaiannya dalam melakukan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang sudah memiliki budaya keagamaan yang mapan. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus membaur dan melakukan pendekatan budaya.
Sunan Kudus juga dikenal sebagai penyair dan pengubah cerita rakyat yang isinya syarat ajran tauhid. Buah karyanya, antara lain, adalah lagu Gending Maskumambang dan Mijil. Dalam banyak hal Sunan Kudus mencoba mewarnai gending atau cerita–cerita tertentu dengan semangat ketauhidan.
Dalam hal tradisi neloni dan mitoni—tiga bulanan dan tujuh bulanan masa kehamilan—Sunan Kudus mengajarkan masyarakat agar membaca Surah Yusuf dan berdoa Allah agar apabila anak yang dikandung laki-laki akan berwajah seperti Nabi Yusuf, dan bila perempuan seperti Siti Maryam, ibu Nabi Isa.
Sebelum acara selamatan neloni atau mitoni, diadakanlah pembacaan Layang Ambiya atau sejarah para Nabi. Biasanya yang dibaca adalah bab Nabi Yusuf. Hingga sekarang acara pembacaan Layang Ambiya berbentuk tembang Asmarandana, Pucung dan lain-lain itu masih dijalankan di kalangan masyarakat pedesaan Kudus.
Sunan Kudus juga mengajarkan Gusjigang, yaitu semacam tuntunan hidup di dunia dan di akhirat. Ajaran ini selalu disampaikan kepada semua santrinya di Kudus dan sekitarnya. Gusjigang adalah kependekan dari “Bagus, Ngaji dan Dagang”. “Gus” berarti bagus ahlaknya, “Ji” yang berarti rajin mengaji, dan “Gang” berarti dagang. Maksud Sunan Kudus dalam ajaran tersebut adalah, manusia harus mengimbangi urusan duniawinya dengan urusan akhirat.
Sunan Kudus juga mewariskan tradisi dandangan atau dhandahangan yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu bagian dari rangkaian tradisi dandangan yang menarik adalah pemukulan bedug Masjid Menara Kudus sebagai tanda datangnya bulan Ramadhan.
Sehari menjelang puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara Kudus. Mereka menunggu pengumuman dari sang guru tentang datangnya awal bulan Ramadan. Dan selepas salat Ashar Sunan Kudus langsung mengumumkan awal bulan Ramadan yang ditunggu-tunggu itu. Pengumuman ini dilanjutkan dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang dang dang“. Maka dari itulah disebut dandangan.[—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





