Sunan Bonang memiliki hubungan khusus dengan keluarga Bupati Tuban. Pasalnya, ibu kandungnya berasal dari Tuban, sementara adik kandung ibunya, Arya Wilatikta, adalah Adipati Tuban. Ketika wafat pun ia diyakini dimakamkan di Tuban. Hubungan dekat antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga sebagai guru dan murid juga bisa dibaca sebagai hubungan kekeluargaan. Sebab, Adipati Tuban Arya Wilwatikta, yang merupakan paman Sunan Bonang, adalah ayah dari Sunan Kalijaga.
Dalam naskah Sadjarah Dalem, yang berisi penjelasan mengenai silsilah raja-raja Mataram-Surakarta, Sunan Bonang disebut sebagai Pangeran Mahdum Ibrahim, dengan gelar Sunan Wadat Anyakrawati. Gelar Anyakrawati ini merujuk kepada dua hal. Pertama, merujuk pada orang yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengajarkan sesuluking ngelmi (ilmu esoteri yang rahasia) dan agami (agama).
Kedua, merujuk pada istilah Cakreswara, yaitu gelar pemimpin lingkaran dalam upacara pancamakara atau ma-lima—upacara penganut Bhairawa-Tantra—yang berlangsung di sebuah ksetra. Istilah ini terlekat kepada Sunan Bonang ketika dia berdakwah di pedalaman Kediri, di mana masyarakatnya adalah penganut Bhairawa-Tantra. Di Kediri itu dia mengubah upacara pancamakara atau ma-lima—yaitu suatu ritual di mana jamaahnya duduk melingkari makanan di tengah-tengah dengan seorang Cakreswara sebagai pemimpin ritual yang membaca doa—menjadi upacara kenduri atau selamatan dengan doa-doa Islam.
Menurut Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sunan Bonang merupakan Sulthonul Auliya atau rajanya para wali Allah di Tanah Jawa. “Nomor 2, anaknya Sunan Ampel adalah beliau Sunan Bonang/Maulana Sayyid Ibrohim yang terkenal dengan sulthonul aulya’-nya Tanah Jawa. Sunan Bonang Maulana Sayyid Ibrohim adalah gurunya para ratu, gurunya para para sultan, gurunya para panglima/senopati, gurunya para tumenggung, gurunya para adipati, gurunya para nanggolo, gurunya para wali, gurunya para ulama, bapaknya para fuqara (orang-orang fakit) wa masakin (dan orang-orang miskin) wal aytam (dan anak-anak yatim) wal aramil (dan para janda),” kata Habib Luthfi.
Ketika berdakwah di Kediri, Sunan Bonang berhasil mengislamkan Adipati Kediri Arya Wiranatapada beserta putrinya—kendati dakwahnya di sana mengalami penolakan yang cukup kuat dari para penganut Bhairawa-Tantra. Setelah dari Kediri, Sunan Bonang bertolak ke Demak, Jawa Tengah. Di sana dia diminta menjadi imam Masjid Demak. Selama di Demak, Sunan Bonang tinggal di Desa Bonang. Menurut beberapa sumber sejarah, Mahdum Ibrahim mendapat gelar Sunan Bonang karena dia tinggal di Desa Bonang, Demak, ini.
Sementara itu, menurut Jurnal Middle East and Islamic Studies, Mahdum Ibrahim mendapatkan julukan Sunan Bonang karena ketika berdakwah menyebarkan Islam di tanah Jawa dia menggunakan alat musik tradisional Jawa bernama bonang—yaitu salah satu perangkat gamelan Jawa. Menurut R. Poedjosoebroto, dalam Wayang Lambang Ajaran Islam (1978), kata “bonang” berasal dari suku kata “bon” dan “nang”, akronim dari istilah “babon” dan “menang”. Gabungan dua suku kata itu bisa diartikan sebagai “baboning kemenangan “ atau “induk kemenangan”.
Dalam menyebarkan Islam, Sunan Bonang mempraktikkan strategi dakwah Tepis Wiring, yaitu sebuah strategi yang dijalankan ayahandanya, Sunan Ampel, ketika berdakwah di Surabaya dan Jawa Timur. Tepis wiring secara harfiah berarti “tapal batas” atau “tepi perbatasan”. Maksudnya, dakwah dimulai dari daerah pinggiran, baru ke tengah. Tujuannya agar dakwah bisa berlangsung optimal dan hasilnya maksimal.
Strategi ini disebut dalam naskah Babad Cerbon kode Br 75a PNRI dan naskah Babad Ampel Denta koleksi Museum Sonobudoyo Yogya. Metode serupa lazim dipakai para wali dalam proses Islamisasi dalam satu komunitas yang rajanya masih belum memeluk agama Islam. Syekh Ibrahim As-Samarqandy, kakek Sunan Bonang, juga menggunakan metode ini ketika berdakwah di Champa.
Strategi tepis wiring sendiri diyakini merupakan hasil saduran dari metode Islamisasi yang berlangsung di anak benua India pada abad ke-14 dan 15. Strategi ini merupakan alternatif dari cara Islamisasi yang dilakukan oleh para sultan dan khalifah, yang menggunakan metode politik, militer, dan kekerasan atau paksaaan. Strategi tepis wiring tercatat dalam satu naskah berbahasa Arab dari Malabar, India pesisir selatan, pada abad ke-15. [—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber]
***| Foto utama: Alat musik bonang, yang dipercaya sebagai kreasi Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang.





