Sukarno Kecil Nyantri di Ploso
Sumber-sumber tertulis buku sejarah arus utama menyatakan Sukarno baru secara khusus mendalami Islam ketika belajar di Bandung dan berguru langsung di bawah bimbingan A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis). Sukarno, menurut sejarah arus utama, tetap belajar Islam melalui surat-menyurat dengan Hassan, saat dia diasingkan ke Ende pada 1933. Dia minta dikirimi banyak buku-buku Islam.
Surat-surat Sukarno itu memang berisi banyak hal tentang pergulatan jiwanya dalam mendalami Islam, diskusi tentang Islam, dan penerapan Islam di zaman itu. Surat-menyurat berlangsung antara Desember 1934 hingga Oktober 1936. (Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I. Surat-surat Islam dari Endeh; 1965).
Namun demikian, beberapa kalangan menilai tesis yang menyebutkan jika Sukarno baru belajar Islam setelah bertemu Hassan di Bandung itu kurang akurat. Sebab, Sukarno diyakini telah mengenal dan belajar Islam jauh sebelum itu—bahkan sejak dia masih kecil. Beberapa kalangan meyakini bahwa Sukarno sudah mulai belajar agama Islam sejak dia tinggal di Ploso.
Ploso terkenal dengan penduduknya yang fanatik menjalankan ajaran Agama Islam. Namun demikian Soekeni—yang oleh sebagian orang dituduh sebagai penganut Kejawen dan Teosofi—tidak kesulitan untuk berbaur dengan penduduk setempat.
Selama bertugas di Ploso, Soekeni merangkul seorang tokoh kharismatik setempat, pengasuh Pesantren Kedung Turi, Ploso, bernama KH. Abdul Mu’thi. Kiai Mu’thi adalah seorang tester dan juragan tembakau terkenal di Ploso, yang selalu membela dan memihak hak-hak ekonomi petani tembakau di Jombang dan sekitarnya. Beliau adalah putra Kiai Ahmad Syuhada, pendiri Pesantren Kedungturi.
Soekeni menjalin relasi dengan KH. Abdul Mu’thi setelah mendapatkan rekomendasi dari Tjokroaminoto. KH. Abdul Mu’thi adalah tokoh sentral sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI) Ploso Jombang, sedangkan Tjokroaminoto adalah Pemimpin Sarekat. Perkenalan Soekeni dengan Islam berlangsung cepat dan intens selama di Ploso. Ida Ayu Nyoman Rai Srimben dan putra-putrinya juga tidak canggung berinteraksi dengan masyarakat Islam Ploso.

Bahkan ada juga informasi yang menyebutkan bahwa Soekeni sempat berbaiat Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah kepada Kiai Muntoho (Muntaha) Kedung Macan, Sambong, Jombang. Kiai Muntoho adalah guru KH. Mochammad Muchtar Mu’thi, pendiri dan mursyid Tarekat Shiddiqiyah.
Masjid Kedung Macan yang dirikan Kiai Muntoho masih eksis dan digunakan masyarakat untuk beribadah shalat lima waktu dan shalat Jumat hingga saat ini. Masjid tua ini juga menjadi salah satu tempat gelaran acara Khususiyah para Jamiyah Qodiriyah wan Naqsabandiyah setiap kamis sore.
Sementara itu, Ida Ayu bersahabat dekat dengan Nyai Nasikhah, istri Kiai Abdul Mu’thi. Nyai Nasikhah adalah saudagar batik di Ploso. Nah, menurut keterangan dari berbagai sumber, Sukarno kecil pernah nyantri dan mengaji dasar-dasar keislaman, fasolatan, dan baca tulis Al-Quran kepada KH. Abdul Mu’thi.
Sekadar informasi, sebelum memproklamasikan kemerdekaan RI, Sukarno sempat berkonsultasi dengan empat ulama tasawuf, antara lain: Syekh Musa dari Sukanegara, Cianjur; Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; Hadratusysyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU); dan K.H. Abdul Mu’thi. Kesimpulan dari pertemuan dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah: Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi.





