Perihal tahun dan tempat kelahiran Sukarno ini juga dipertegas oleh Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah Syekh Muchtarulloh Al-Mujtaba—atau KH. Muchtar Mu’thi. Dalam acara Tasyakuran Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, 19 Agustus 2020, Kiai Muchtar menegaskan bahwa Bung Karno lahir di Ploso, tepatnya di Desa Rejoagung.
Kesimpulan Kiai Muchtar itu bukannya tanpa dasar. Berdasarkan beslit atau Surat Keputusan (SK) No. 16232 tanggal 28 Desember 1901, yang ditandatangani Direktur Pendidikan, Peribadatan, dan Kerajinan Pemerintah Hindia Belanda, tertulis bahwa Soekeni diangkat sebagai Mantri Guru—sekarang disebut Kepala Sekolah—di Sekolah Kelas Dua (Sekolah Ongko Loro) di Ploso, Surabaya.
Pada zaman Belanda, Ploso merupakan ibu kota Kawedanan—atau Pembantu Bupati—yang masuk dalam Residensi Surabaya. Jombang masuk di dalam residensi tersebut. Pada 12 Mei 1902, keluar beslit yang menetapkan gaji Soekeni menjadi sebesar 50 gulden. Soekeni bertugas di Ploso dari tahun 1901 sampai 1907.
Soekeni tak bisa menolak SK Pemerintah Hindia Belanda dan harus bersedia pindah ke Ploso sebab dia merasa berutang budi kepada Pemerintah Hindia Belanda, ketika surat pengajuan pindah tugasnya dari Singaraja ke Kota Surabaya dikabulkan.
Soekeni bersama istri dan anak perempuannya, Sukarmini—kelak dipanggil sebagai Ibu Wardoyo—menggunakan moda transportasi kereta api berbahan bakar batu bara dari Surabaya menuju Jombang. Penduduk Jombang biasa menyebut kereta api ini sepur kluthuk. Kereta ini mulai beroperasi sejak diresmikan tanggal 16 Agustus 1899.
Setelah sampai di Stasiun Jombang, keluarga Soekeni naik kereta api jurusan Jombang-Babat. Jalur kereta itu melewati Ploso, setelah menyeberangi Sungai Brantas. Stasiun kereta api Ploso terletak di sebelah utara Sungai Brantas.
Bekas bangunan Stasiun Ploso ini sekarang telah berubah fungsi menjadi toko dan rumah makan. Stasiun inilah yang sering menjadi tempat Soekeni maupun Kusno—alias Sukarno kecil—naik dan turun kereta api dari Kediri ke Jombang, maupun sebaliknya.

Dalam buku Candradimuka Spiritualitas Sukarno, Dian Sukarno menulis bahwa Soekeni pernah tinggal di dekat Kantor Pos Ploso. Beberapa informasi menyebutkan bahwa dahulu, di zaman Belanda, di dekat Pasar Ploso terdapat sebuah sekolah yang sekarang berubah jadi pertokoan. Sekolah inilah yang menjadi tempat Mantri Guru Soekeni mengajar.
Sebagai istri seorang guru, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben tergolong orang yang dihormati. Masyarakat Ploso memanggil perempuan asal Singaraja ini dengan sebutan “Bu Guru”—karena dia adalah istri seorang guru.
Sukarno diduga kuat lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, di sebuah rumah di Gang Buntu desa setempat. Bung Karno juga diduga kuat pernah bersekolah di Sekolah Desa di Ploso, yang saat ini sudah menjadi SDN Ploso 1, Jombang.
Fakta ini berdasarkan penuturan salah satu guru SDN Ploso 1, Moch. Arifin. Menurut Arifin, pihaknya menemukan buku induk kedua, yang di dalamnya terdapat nama-nama murid di masa lampau. Buku induk kedua ditulis pada tahun 1907, dengan nomor urut murid di urutan pertama yakni 586 hingga 1145.
Akan tetapi, menurut Arifin, buku induk pertama, yang menyatakan bahwa Bung Karno pernah bersekolah di sekolah tersebut, raib. Nama Kusno—atau nama kecil Bung Karno—ada di buku induk pertama itu, antara urutan 01 sampai 585. Kata Arifin, pernah ada yang meminjam buku induk pertama tersebut dan buku tidak pernah mengembalikannya. Gedung SDN Ploso 1 Jombang ini, menurut Moch Arifin, diperkirakan dibangun pada tahun 1900.
Dokumen lain yang menguatkan fakta bahwa Sukarno lahir tahun 1902 adalah penulisan tempat dan tanggal lahir Sukarno di register THS (ITB) Bandung. Di situ tertulis Sukarno lahir pada 06 Juni 1902 di Soerabia. Ditulis Soerabaia karena waktu itu Kecamatan Ploso, Jombang, merupakan bagian dari Karesidenan Soerabia—atau Surabaya. Kabupaten Jombang sendiri baru berdiri pada tahun 1910, seiring pengangkatan R.A.A Soeroadiningrat atau Kanjeng Sepuh sebagai Bupati Jombang pertama.





