Srikandi Kritis dari Depok: Fathimah Azzahra Menolak Bungkam

Fatimah Azzahra. (Tangkapan Layar Istimewa)

Dalam diskusi tersebut, Fathimah menyampaikan pandangan kritisnya secara tegas mengenai pemerataan hak-hak dasar. “Saya rasa tadi sudah bahkan disebutkan ya, bahwa ada sesuatu yang lebih genting sebetulnya dari mengisi perut lapar, yaitu bagaimana anak-anak di daerah yang akses pada sekolahnya itu masih terhambat,” ujar Fathimah.

Ia mendesak agar pemerintah memprioritaskan perbaikan infrastruktur pendidikan. “Sebelum kita memberikan yang tambahan-tambahannya, additional-nya yaitu dari bentuk MBG ini, makan bergizi gratis, apa yang wajib-wajib dan standarnya perlu dipenuhi dulu,” lanjutnya.

Simbol Perlawanan Bernurani

Ketegasan Fathimah dalam mengawal aspirasi publik—baik melalui mimbar diskusi formal maupun barisan demonstrasi jalanan—makin mengukuhkan sosoknya sebagai aktivis muda yang konsisten dan vokal membela hak-hak masyarakat. Di balik keberaniannya menentang barikade aparat, sisi manusiawi sang aktivis tetap memancar dengan jujur.

Bacaan Lainnya

Air mata yang sempat menetes di tengah kepungan petugas pada hari itu menjadi saksi bisu atas beratnya beban perjuangan kaum muda. Tangis tersebut merupakan refleksi empati mendalam dari seorang calon dokter yang bertekad menyembuhkan luka ketidakadilan sosial.

“Di situ perdebatannya terjadi. Pak Reynold sebagai Kapolres bilang bahwa dia akan menjaga anak-anaknya, tapi kenyataannya bawahannya malah menyuruh mobil kita putar balik. Bahkan sampai harus saya dengan polisi ini dorong-dorongan,” ungkap Fathimah.***

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan