“Inisiatif lokal seperti ini bagus untuk didukung. Apalagi berdasarkan catatan sejarah, selama ini belum pernah kita mengadakan Muktamar NU di kawasan Nusa Tenggara. Biar tidak Jawa-sentris,” ujar pria yang akrab disapa Gus Izzul tersebut kepada *Samudrafakta*, Kamis, 2 Juli 2026.
Konsolidasi Masif PWNU NTB
Ketua PWNU NTB Prof. Masnun Tahir menegaskan bahwa antusiasme ini tidak sekadar wacana. Pihaknya terus menggenjot konsolidasi internal untuk mematangkan pencalonan Bumi Gora.
Mereka bergerak proaktif menjalin komunikasi dengan pengurus NU lintas tingkatan, badan otonom, hingga jajaran pemerintah daerah.
Prof. Masnun mengungkap bahwa gubernur dan sejumlah bupati telah menyatakan komitmen resmi untuk mendukung perhelatan akbar ini. Gelombang dukungan juga mengalir deras dari pengurus NU di NTT, Sulawesi, Kalimantan, Riau, hingga Pulau Jawa.
“Dukungan yang terus berdatangan ini menjadi energi sekaligus tanggung jawab bagi kami untuk mempersiapkan segala sesuatunya secara lebih serius dan terukur,” tuturnya.
Empat Kriteria Ketat PBNU
Di tengah kesiapan NTB, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap memegang kendali evaluasi melalui standar yang ketat. Sekretaris Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU 2026 Prof. Mohammad Nuh memaparkan bahwa PBNU akan menerjunkan tim khusus untuk mengkaji daerah-daerah kandidat.
Ada empat aspek utama yang menjadi tolok ukur kelayakan, meliputi kesiapan infrastruktur untuk menampung peserta, jaminan keamanan bebas intervensi, kemampuan sokongan finansial daerah, hingga kelayakan spiritual melalui pertimbangan *istikharah* para kiai.
PBNU menargetkan penetapan lokasi Muktamar diumumkan pada pertengahan Juli ini. Namun, progres kinerja tim peninjau masih dinanti banyak pihak. Wakil Rais ‘Aam PBNU KH. Afifuddin Muhadjir bahkan sempat mempertanyakan pergerakan tim survei lima lokasi calon tuan rumah melalui akun Facebook resminya pada Senin, 29 Juni 2026 lalu.***





