Siapa Pakubuwono XIV yang Sah? 

Polemik perebutan takhta kembali terjadi di Keraton Solo, pasca-wafatnya PB XIII. - Dok. Istimewa

Pemerintah Kota Surakarta, yang tengah menjalankan revitalisasi kawasan Baluwarti, pun berhadapan dengan pertanyaan teknis: pihak mana yang berwenang memberi persetujuan resmi.

Sejumlah pengamat budaya menyebut kondisi ini sebagai “krisis legitimasi simbolik” yang bisa menurunkan kepercayaan publik dan memengaruhi pariwisata budaya Surakarta.

Dokumentasi interior Keraton Solo, dengan catatan tahun 1890. – Pinterest
Takhta Masih Menunggu Jalan Tengah

Dua dekade setelah konflik raja ganda pertama, Keraton Surakarta kembali berada dalam dilema yang sama. Purboyo mengklaim legitimasi dari titah ayahandanya sebagai putra mahkota. Hangabehi didukung adat sebagai anak sulung dan dipilih dalam rembug keluarga. Negara memegang dokumen administratif yang memberi ruang intervensi.

Bacaan Lainnya

Hingga kini, belum ada tanda-tanda kompromi. Konflik dua PB XIV masih menggantung di atas tembok Baluwarti.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, nasib takhta Keraton Surakarta kembali ditentukan bukan hanya oleh garis keturunan, tetapi oleh kemampuan keluarga besar Mataram menemukan kesepakatan—di tengah sejarah panjang yang belum selesai ditutup.***

Pos terkait