“Hak itu dari Tuhan. Hangabehi anak sulung, kami menghormatinya,” kata Gusti Moeng, dalam wawancara dengan Tirto, 13 November 2025.
Di sisi lain, Hangabehi sendiri memilih menahan diri dalam minggu pertama usai wafat PB XIII. “Kita masih dalam masa berkabung. Belum waktunya bicara suksesi,” ujarnya, sebagaimana dikutip Liputan6 pada 8 November 2025.
Namun, sikap itu berubah ketika rembug keluarga digelar.

Rembug Keluarga 13 November dan Penetapan Raja Versi Kedua
Pada 13 November 2025, Maha Menteri KGPA Tedjowulan menggelar rembug keluarga besar di Sasana Handrawina. Undangan itu merujuk pada SK Mendagri No. 430.2/2933/2017, yang menempatkan Maha Menteri sebagai penghubung negara–keraton, serta surat Mendikbud Ristek Fadli Zon tertanggal 10 November 2025.
Rembug itu berlangsung hangat namun tegang. Sebagian kerabat diketahui meninggikan suara, dan beberapa dilaporkan menitikkan air mata karena tekanan situasi. Kubu Purboyo tidak hadir.
Di akhir pertemuan, Tedjowulan menetapkan Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV versi rembug keluarga.
Tedjowulan menyatakan penetapan ini dilakukan agar “suksesi berjalan sesuai adat dan mekanisme keluarga,” mengacu pernyataannya yang dirilis melalui jaringan media lokal Solo.
Negara Menegaskan Keraton sebagai Aset Budaya Nasional
Kementerian Kebudayaan memastikan posisi negara sebagai pihak yang menjaga keberlanjutan keraton. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam keterangannya kepada Antara pada 5–6 November 2025, menyebut bahwa keraton harus dipandang dalam kerangka pelestarian budaya nasional.
“Keraton Surakarta adalah kekayaan budaya nasional,” kata Fadli Zon.
Pernyataan ini dianggap sebagian pihak sebagai bentuk penegasan bahwa mekanisme suksesi harus melalui jalur administratif yang diatur negara, bukan hanya adat internal.
Ritual, Revitalisasi, dan Kekacauan Dua Legitimasi
Konflik legitimasi ini berpotensi mengganggu pelaksanaan ritual tradisi yang secara turun-temurun dipimpin satu raja. Agenda sekaten, tingalan jumenengan, hingga kirab pusaka kini terancam mengalami dualisme pimpinan.
