Mengenang Pakubuwono XIII, Raja Solo yang Nyeni, Sang ‘Pemadam Api’ dan Perpecahan

Sinuhun Pakubuwono XIII. - Tangkap layar akun Instagram @kraton_solo
Dua dekade memimpin, PB XIII dikenang sebagai raja penyatu dan pemulih martabat Keraton Surakarta.

Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono XIII Hangabehi, wafat pada Ahad (2/11) dalam usia 77 tahun. Raja kelahiran 28 Juni 1948 itu dikenang sebagai pemimpin yang berhasil memulihkan martabat Keraton Solo setelah bertahun-tahun terbelah akibat konflik internal.

Awal Kepemimpinan yang Berliku

PB XIII naik takhta pada 10 September 2004, menggantikan ayahandanya, PB XII, yang wafat tiga bulan sebelumnya. Namun, jalan menuju singgasana tidak mudah. Saudaranya, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, juga mengklaim berhak atas takhta.

Konflik “Raja Kembar” bermula karena PB XII mangkat tanpa menunjuk penerus resmi dan tanpa permaisuri. Kedua pihak saling mengklaim sebagai pewaris, hingga akhirnya keluarga besar memutuskan Hangabehi sebagai PB XIII, sementara Tedjowulan keluar dari keraton.

Bacaan Lainnya

Ketegangan memuncak pada September 2004, saat kubu Tedjowulan menyerbu Keraton Surakarta dan menyebabkan sejumlah bangsawan serta abdi dalem terluka.

Perdamaian di Gedung DPR

Delapan tahun berseteru, kedua belah pihak akhirnya berdamai lewat rekonsiliasi bersejarah di Gedung DPR RI, Jakarta, pada 25 Mei 2012.

Dalam kesepakatan itu, Tedjowulan mengakui PB XIII Hangabehi sebagai raja sah dan menanggalkan gelar PB XIII-nya. Ia kemudian diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung (KGPHPA) dan menjabat sebagai mahamenteri.

Peristiwa islah ini menjadi babak penting pemulihan wibawa dan harmoni Kasunanan Surakarta.

Penjaga Tradisi dan Pembaharu

Pasca-rekonsiliasi, PB XIII fokus menata kehidupan internal keraton dan menjaga warisan budaya Jawa. Ia dikenal sebagai sosok tenang dan teguh, terutama dalam melestarikan tarian Bedhaya Ketawang, persembahan sakral yang hanya digelar pada upacara penting keraton.

Dalam masa kepemimpinannya, proyek revitalisasi Alun-Alun Utara dan Selatan senilai sekitar Rp35 miliar rampung pada akhir 2024, membuka jalan bagi pemugaran kawasan dalam keraton, termasuk Panggung Sangga Buwana.

Jejak Hidup dan Pengabdian

Sebelum naik takhta, Hangabehi sempat bekerja di Caltex Pacific Indonesia di Riau dan aktif di Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Ia juga pernah menjabat Pangageng Museum Keraton Surakarta, termasuk saat membantu penyelamatan pusaka dalam kebakaran besar 1985—sebuah momen yang membuat PB XII menganugerahkan Bintang Sri Kabadya I, penghargaan tertinggi keraton, hanya kepadanya.

Pos terkait