Shiddiqiyyah dan Jejak Kejujuran Iman: Dari Peristiwa Isro’ Mi’roj hingga Bangkit di Jombang

Jejak Shiddiqiyyah mengalir dari peristiwa Isro’ Mi’roj hingga Nusantara—sebuah perjalanan iman yang berpijak pada keberanian membenarkan kebenaran, melintasi zaman dan peradaban.
Titik Balik dari Ploso, Jombang

Kebangkitan nama Shiddiqiyyah terjadi di Nusantara, tepatnya di Ploso, Jombang, Jawa Timur. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi mulai mengajarkan kembali ajaran ini sejak 1960 dengan pendekatan bertahap.

Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi ketika menyampaikan ceramah pada puncak rangkaian acara tasyakuran Hari Shiddiqiyyah. (Tangkapan layar dari Opshid Media)

Perjalanan itu melalui empat fase: pengajaran Ilmu Haq Layar Tujuh Pati, Ilmu Haq Kholwatiyyah, Thoriqoh Kholwatiyyah Shiddiqiyyah, hingga resmi berdiri sebagai Thoriqoh Shiddiqiyyah pada 4 April 1972.

Di tangan Syekh Mukhtar, Shiddiqiyyah ditegaskan sebagai ajaran tasawuf yang tidak berhenti pada ritual, tetapi hadir dalam kehidupan sosial.

Bacaan Lainnya
Spiritualitas yang Menyentuh Kehidupan

Prinsip bahwa thoriqoh harus hidup di tengah masyarakat melahirkan berbagai lembaga pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Dari Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah hingga Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, seluruh gerakan ini berpijak pada dua pilar: keimanan spiritual dan kemanusiaan sosial.

Kini, Shiddiqiyyah berkembang lintas wilayah dan negara. Ajaran ini menegaskan bahwa iman tidak menjauhkan manusia dari realitas bangsanya, justru menguatkan peran sosial dan kebangsaan.

Shiddiqiyyah menempatkan kejujuran iman sebagai fondasi peradaban—nilai yang lahir dari Isro’ Mi’roj dan terus diuji oleh zaman. ***

Pos terkait