Serentet Bahaya Akibat Pindai Mata Seperti di ‘Worldcoin’: Dari Kebobolan Finansial, Kejahatan Pemilu, hingga Serangan Fisik

Data biometrik seperti pindai iris mata adalah data yang sangat sensitif. Para ahli mengingatkan, jangan main-main dengan data ini. | Ilustrasi
Lembaga riset keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) mengungkapkan, teknologi pemindaian iris mata Worldcoin punya banyak risiko yang tak bisa dianggap remeh. Mengancam keselamatan seseorang atau masyarakat.

__________

Risiko pertama adalah, pindai iris mata ini tak bisa diubah. Beda dengan email atau password yang bisa diubah sewaktu-waktu jika terjadi kebobolan.

“Dalam kasus iris mata, tidak ada jalan kembali. Jika data biometrik ini bocor ke pihak yang tidak bertanggung jawab, individu tersebut berisiko menjadi target penyalahgunaan identitas seumur hidupnya,” kata Chairman CISSReC Pratama Persadha dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 6 Mei 2025.

Bacaan Lainnya

Pratama menambahkan, pencurian data biometrik bisa dimanfaatkan untuk menjalankan skenario kriminal yang canggih—mulai dari pemalsuan identitas hingga pembukaan akses ilegal terhadap sistem-sistem sensitif yang menggunakan otentikasi biometrik.

Risiko kedua, adanya potensi penyalahgunaan data untuk pengawasan massal.

Data iris dapat dipadukan dengan teknologi pengenalan wajah atau pengawasan berbasis kamera cerdas di ruang publik. Di tangan pemerintah yang otoriter atau perusahaan yang agresif dalam mengejar keuntungan, lanjut Pratama, data ini bisa menjadi alat pengawasan yang mengikis kebebasan individu.

Bahkan, dalam sistem demokratis pun, apabila regulasi atau pengawasan terhadap penggunaan data biometrik terlalu minim, bisa juga mengarah pada pelanggaran privasi secara sistematis yang tak terdeteksi.

Risiko ketiga adalah pelanggaran keamanan data oleh pihak ketiga. Perusahaan yang menyimpan data iris punya tanggung jawab besar untuk memastikan sistem penyimpanan mereka aman dari peretasan. Namun, dalam praktiknya, tidak semua perusahaan memiliki standar keamanan siber yang kuat.

“Banyak kebocoran data besar di masa lalu, menunjukkan bahwa, bahkan perusahaan teknologi besar pun tidak kebal dari serangan. Jika data iris disimpan tanpa enkripsi atau dengan standar keamanan yang lemah, maka masyarakat sedang mengambil risiko besar tanpa perlindungan memadai,” ungkapnya.

Risiko keempat, adanya potensi komersialisasi data biometrik. Data iris, jika disimpan dan dianalisis dalam jumlah besar, bisa digunakan untuk menciptakan profil digital yang sangat spesifik tentang seseorang.

“Ini berpotensi dimanfaatkan oleh perusahaan untuk kepentingan pemasaran, periklanan yang ditargetkan, atau bahkan ditransfer ke pihak ketiga tanpa persetujuan eksplisit dari pemilik data. Transparansi mengenai bagaimana data akan digunakan, kepada siapa akan dibagikan, dan untuk tujuan apa, sering kali tidak dijelaskan secara tuntas dalam kebijakan privasi perusahaan,” jelas Pratama.

Oleh karena itu, menurut Pratama, sebelum seseorang memutuskan untuk menyerahkan data biometriknya kepada sebuah layanan atau platform digital, dia harus meminta kejelasan tujuan dari pengumpulan data tersebut.

“Masyarakat harus mengetahui siapa yang mengelola data mereka, di mana data tersebut disimpan, dan apakah data tersebut dilindungi oleh enkripsi atau metode penyimpanan aman lainnya,” tegas Pratama.

Serentet Bahaya

Dikutip dari laman resmi TrustCloud, sebuah platform manajemen transaksi digital, data biometrik—seperti pemindaian iris mata— dianggap sebagai informasi yang sangat sensitif.

“Bisa dikatakan bahwa menyerahkan sidik jari atau pindaian iris mata kita sama saja dengan mengirimkan salinan dokumen identitas kita tanpa filter apa pun,” demikian tulis TrustCloud.

Menurut pihak TrustCloud, jika data ini jatuh ke tangan yang salah, berpotensi disalahgunakan untuk hal-hal berikut:

– Pencurian Identitas Keuangan

Dengan data ini, penjahat dapat mengakses rekening bank, kartu kredit, atau bahkan mengajukan pinjaman atas nama korban.

– Penipuan Pemilu

Data biometrik berpotensi digunakan untuk memberikan suara secara ilegal dalam pemilu atau terlibat dalam kegiatan lain yang membutuhkan verifikasi identitas.

– Kejahatan Fisik

Pencurian data biometrik wajah juga akan membuka jalan bagi kejahatan fisik, karena dapat memfasilitasi akses ke area terlarang, bahkan membantu penjahat menyamar sebagai korban untuk melakukan tindakan kriminal.***

Pos terkait