RIYADH—Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KSA) dilaporkan menerapkan tindakan keras terhadap warga negaranya yang menyatakan pandangan kritis terhadap Israel, terkait pendudukan dan genosida Negeri Zionis tersebut di Gaza.
Dikutip dari Middle East Eye (MEE), kebijakan tersebut dinilai menunjukkan bahwa tidak ada kebebasan berpendapat di KSA.
Tindakan keras terhadap kebebasan berpendapat dan penahanan orang karena postingan mereka media sosial telah menjadi praktik umum sejak Mohammed Bin Salman ditahbiskan sebagai Putra Mahkota KSA pada tahun 2017.
KSA tidak pernah mengungkapkan berapa jumlah orang yang telah ditahan dan tidak mengadili mereka di pengadilan biasa. Namun, mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya, salah seorang eksekutif yang bekerja untuk sebuah perusahaan yang terlibat dalam Visi 2030, proyek ekonomi utama yang dipelopori oleh Mohammed bin Salman, pun ikut ditahan.
“Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa orang tersebut ditangkap karena mengungkapkan pandangan yang ‘menghasut’ mengenai konflik Israel-Gaza saat ini,” demikian MEE melaporkan, dikutip Sabtu (4/5/2024).
Tahanan kedua adalah tokoh media yang mengatakan bahwa, “Israel tidak boleh dimaafkan”. Sedangkan tahanan lainnya adalah seseorang yang menyerukan boikot terhadap restauran cepat saji AS di KSA.
MEE mengaku telah menghubungi Kementerian Luar Negeri KSA untuk diminta komentar terkait penahanan tersebut, tetapi belum menerima tanggapan hingga artikelnya diterbitkan.
Sebagai informasi, pada tahun 2020 dan 2021, Israel mencapai perjanjian normalisasi dengan UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko. Amerika Serikat (AS) menjadi penengah dalam normalisasi tersebut.
Sejak saat itu pula muncul berbagai spekulasi mengenai kesepakatan serupa dengan KSA, yang merupakan sekutu utama AS di Timur Tengah.
Pada Januari, Pangeran Khalid bin Bandar, Duta Besar KSA di London, Inggris, mengatakan bahwa kesepakatan normalisasi sudah “hampir terjadi”, tetapi Kerajaan Saudi menghentikan pembicaraan yang ditengahi AS tersebut, setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023.





