Karena itu, perdebatan soal Hari Tanpa Tembakau seharusnya tidak berhenti pada kalimat “tembakau adalah obat”. Pertanyaan yang lebih penting ialah: tembakau yang mana, dipakai bagaimana, oleh siapa, dalam dosis apa, dan untuk kepentingan siapa?
Dengan cara pandang itu, Hari Tanpa Tembakau bukan berarti menghapus sejarah tembakau sebagai tanaman budaya dan obat tradisional. Peringatan ini justru menjadi pengingat agar masyarakat tidak mencampuradukkan warisan etnobotani dengan industri produk tembakau modern yang membawa risiko kesehatan luas.***





