Fakta itu menunjukkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi.
Kerangka rupiah–renminbi bekerja pada sisi struktur: mengurangi kebutuhan dolar secara bertahap.
Sementara gejolak rupiah sering datang dari sisi pasar keuangan yang bergerak jauh lebih cepat—modal asing keluar dalam hitungan jam, sentimen berubah dalam hitungan menit.
Karena itu, kesepakatan ini bukan obat darurat. Ia lebih mirip pembangunan saluran air sebelum musim kemarau berikutnya datang.
Bukan untuk Belanja Wisatawan—Setidaknya Belum
Apakah wisatawan Indonesia akan segera dapat berbelanja di Hong Kong langsung menggunakan rupiah?
Belum.
Kesepakatan saat ini terutama ditujukan bagi perdagangan dan investasi lintas batas di antara perusahaan serta institusi keuangan. Pedoman operasional, bank peserta, mekanisme kurs, dan persiapan teknis masih akan disusun oleh BI dan HKMA.
Namun, arah perkembangannya dapat meluas.
Indonesia sebelumnya sudah menghubungkan pembayaran QR lintas batas dengan sejumlah negara. Pada April 2026, konektivitas QR Indonesia–Korea Selatan bahkan resmi diluncurkan agar pembayaran dapat dilakukan langsung dalam mata uang lokal.
Bila infrastruktur rupiah–renminbi berkembang, transaksi ritel, pembayaran digital, dan layanan wisata bukan kemungkinan yang mustahil.
Tetapi itu adalah tahap berikutnya—bukan manfaat langsung dari nota kesepahaman ini.
Pertaruhan Ada pada Pelaksanaan
Kesepakatan mata uang lokal sering terdengar besar ketika diumumkan, tetapi dampaknya baru nyata bila dunia usaha benar-benar menggunakannya.
Bank peserta harus menyediakan likuiditas rupiah dan renminbi yang memadai. Selisih harga jual-beli harus kompetitif. Instrumen lindung nilai harus tersedia. Prosedur transaksi juga tidak boleh lebih rumit daripada menggunakan dolar.
Tanpa itu, perusahaan akan kembali ke kebiasaan lama.
Dolar tetap dipilih bukan semata-mata karena dominasi politik Amerika Serikat, tetapi karena pasarnya paling dalam, likuid, dan mudah digunakan hampir di seluruh dunia.
Itulah tantangan sebenarnya.





