Kurs Rupiah Nyaris Rp17.900, Purbaya: Tak Masuk Akal

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Samudrafakta
Rupiah hampir menyentuh Rp17.900 per dolar AS. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan ini aneh karena dinilai tidak sejalan dengan kondisi ekonomi Indonesia.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati level Rp17.900 per dolar AS. Di tengah pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menyebut kondisi itu tidak masuk akal karena fundamental ekonomi nasional dinilai masih berada dalam kondisi baik.

Mengutip laporan Republika, rupiah sempat menyentuh Rp17.858 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026) pagi berdasarkan data Bloomberg. Angka itu menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.

Bacaan Lainnya

“Ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” kata Purbaya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi

Purbaya mengungkapkan pemerintah bersama sejumlah pihak melakukan langkah stabilisasi di pasar surat berharga negara (SBN). Upaya itu dilakukan untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali dan mencegah gejolak yang lebih besar di pasar keuangan.

Menurut dia, meski rupiah melemah, pasar obligasi justru menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Pemerintah melihat mulai ada aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar domestik dalam beberapa waktu terakhir.

“Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar keuangan kita,” ujar Purbaya.

Ekonom Soroti Faktor Eksternal

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik. Eskalasi konflik geopolitik global, pergerakan dolar AS, harga minyak dunia, hingga sentimen investor terhadap pasar negara berkembang ikut memberi tekanan pada mata uang Indonesia.

Ekonom Yanuar Rizky bahkan mengingatkan bahwa intervensi di pasar obligasi berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap rupiah jika ketergantungan terhadap arus modal asing masih tinggi. Menurutnya, stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada kondisi fundamental ekonomi, tetapi juga persepsi pasar terhadap risiko fiskal dan keuangan.

Pelemahan rupiah kini menjadi sorotan karena berpotensi berdampak pada harga barang impor, biaya energi, hingga tekanan terhadap APBN apabila berlangsung dalam jangka panjang. Di saat yang sama, pemerintah dan Bank Indonesia masih berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan agar kepercayaan investor tidak semakin terkikis.***

Pos terkait