Rupiah Menantang Dolar, Siapa Paling Diuntungkan?

Ilustrasi.

Ketiganya sama-sama menang, tetapi dengan tujuan berbeda.

China mendapat perluasan pengaruh moneternya. Hong Kong memperkuat posisi sebagai perantara. Indonesia mengurangi satu lapis ketergantungan terhadap dolar. Bahan awal yang menjadi dasar tulisan ini juga menempatkan efisiensi perdagangan dan penguatan posisi rupiah sebagai manfaat utama kesepakatan.

Dedolarisasi yang Disicil

Indonesia sebenarnya telah lama membangun jalur serupa.

Bacaan Lainnya

Kerangka transaksi mata uang lokal telah dijalankan bersama Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kerangka dengan Singapura dan India juga telah memasuki tahap finalisasi pedoman operasional pada awal 2026. 

Nilainya bukan lagi recehan.

Sepanjang 2025, transaksi LCT Indonesia mencapai ekuivalen USD25,74 miliar, naik dari US$16,28 miliar pada 2024. 

Khusus transaksi Indonesia–China, nilainya telah mencapai ekuivalen USD6,23 miliar hanya dalam tujuh bulan pertama 2025, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Angka itu memperlihatkan dedolarisasi tidak datang melalui satu deklarasi besar.

Ia disicil lewat penunjukan bank, pembentukan kurs langsung, sistem pembayaran, jalur investasi, dan kebiasaan perusahaan dalam memilih mata uang transaksi.

Pelan-pelan, dolar tidak dihapus. Ia hanya tidak lagi menjadi satu-satunya jalan.

Belum Menjadi Obat bagi Rupiah

Di tengah tekanan nilai tukar, kesepakatan ini mudah dibaca sebagai senjata baru untuk memperkuat rupiah.

Namun, harapan itu perlu ditempatkan secara proporsional.

Transaksi langsung dapat menurunkan permintaan dolar dari kegiatan perdagangan tertentu. Akan tetapi, ia tidak otomatis membalikkan arah rupiah.

Nilai tukar tetap lebih banyak ditentukan oleh arus modal, suku bunga, inflasi, kebutuhan pembayaran utang, harga energi, cadangan devisa, dan sentimen geopolitik global.

Pada Mei 2026, Bank Indonesia bahkan harus menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah gejolak global dan perang di Timur Tengah. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan