Ribuan Warga Iran Padati Aksi Al-Quds, Nyatakan Perlawanan di Tengah Gempuran AS-Israel

Ribuan warga Iran turun ke jalan-jalan di ibu kota Teheran untuk melakukan protes massal guna mendukung Palestina, seiring dengan terus bertambahnya jumlah korban tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut. - Tangkapan Layar Al Jazeera
Ribuan warga Iran memadati jalanan Teheran dalam aksi Hari Al-Quds, Jumat (13/3/2026), menunjukkan solidaritas untuk Palestina.

Media pemerintah Iran melaporkan, setidaknya satu orang tewas akibat beberapa ledakan di dekat aksi di Lapangan Ferdowsi, Teheran. Penyebab ledakan belum diketahui, tetapi terjadi tak lama setelah Israel mengancam akan menyerang area tersebut.

“Kami berdiri di samping negara kami,” kata seorang demonstran perempuan, seperti dikutip Al Jazeera. “Mereka pikir dengan membunuh kami, kami akan takut. Tidak.”

Solidaritas untuk Palestina di Tengah Perang

Hari Al-Quds diperingati setiap tahun oleh masyarakat dunia untuk menunjukkan dukungan bagi Palestina dan menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina. Al-Quds adalah nama Arab untuk Yerusalem.

Bacaan Lainnya

Demonstran lain menyatakan bahwa rakyat Iran telah menunjukkan dalam konfrontasi dengan AS dan Israel bahwa “tembok penindasan dapat dihancurkan”. “Hari ini, dengan kehadiran mereka di berbagai lapangan, rakyat menunjukkan bahwa mungkin untuk mengatasi ketidakadilan dan menghancurkan tembok penindasan.”

Presiden Iran Ikut dalam Aksi

Presiden Iran Masoud Pezeshkian terlihat dalam aksi di ibu kota, bersama pejabat Iran lainnya termasuk Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. 

Dalam unggahan media sosial, Kamis (12/3/2026), Pezeshkian mendesak warga Iran untuk “mengecewakan musuh Iran dengan turun ke jalan dalam jumlah lebih besar dari sebelumnya.”

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 1.444 orang tewas dan 18.551 lainnya terluka sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Pemerintah AS dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda menghentikan ofensif, meskipun tekanan internasional meningkat.

Pos terkait