Raden Ajeng (RA) Kartini tak hanya dikenal sebagai pejuang emansipasi bagi kaumnya dan santriwatinya Kiai Soleh Darat, tetapi juga hobi memasak dan mewariskan aneka resep kuliner.
____________________
Meski Kartini seorang putri bupati, yang tentu berjumpa dengan beragam produk kuliner dan bahan pangan ala-ala Belanda pada masanya, tetapi dia lebih mencintai kuliner dan pangan lokal.
Di usianya yang hanya 25 tahun, Kartini sempat menuliskan resep masakan yang dihidangkan untuk keluarga bangsawan di lingkungan Kadipaten Jepara. Kartini bersama dua saudaranya, RA. Kardinah dan R.A Roekmini menulis resep makanan tersebut dalam aksara Jawa dengan rinci.
Rekaman tulisan mereka kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan dan diterbitkan jadi sebuah buku oleh sang cicit, Suryatini N. Ganie. Buku itu diterbitkan Gaya Favorit Press, Jakarta, tahun 2005 dan diberi judul Kisah & Kumpulan Resep PUTRI JEPARA Rahasia Kuliner R.A Kartini, R.A Kardinah dan R.A Roekmini.

Suryatini memodifikasi alat ukur tradisional di zaman abad 20, seperti kati, elo, dan cangkir, dengan alat ukur modern.Dengan demikian menu tersebut dapat dipraktikkan perempuan masa kini dengan kondisi dapur dan bahan-bahan makanan saat ini.Di buku tersebut terdapat 200 resep dengan koleksi hidangan Jawa masa lalu yang juga banyak dipengaruhi kuliner Belanda, China, Arab.
Suryatini mengungkapkan, di antara banyaknya resep, pahlawan nasional asal Jepara ini menyukai tiga menu masakan, yaitu:

- Ayam Besengek
Ayam besengek merupakan makanan khas Jepara yang jadi salah satu favorit Kartini. Masakan ini berupa ayam yang diungkep dengan santan dan air asam Jawa kemudian dipanggang. Menu ayam besengek ini sering jadi sajian di rumah Kartini. Sajian ini dulunya juga dikabarkan jadi makan yang disukai para bangsawan di Jawa Tengah.
- Nasi Liwet Ayam
Kartini menyukai nasi liwet ayam. Makanan ini disajikan bersama suwiran daging ayam, sayur labu siam, areh, dan opor. Umumnya, nasi liwet biasanya disajikan dengan menggunakan daun pisang yang dipincuk.
- Sup Pangsit Jepara
Sup pangsit jepara menyerupai rolade ketimbang pangsit rebus. Sup ini adalah sajian fusion, yaitu resep lokal yang dipengaruhi oleh citarasa asing dari resep Belanda dan Tionghoa. Isian sup bening ada dadar gulung udang yang menggoda. Jika dilihat sekilas mirip dengan sup manten khas Solo.
Sejak berusia belasan tahun, Kartini sangat memperhatikan apa-apa yang Ia makan. Dalam suratnya, terkuak bahwa Kartini menganut prinsip vegetarian. Kata-katanya yang sangat terkenal terkait hal ini adalah, “Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi.” Tak heran jika resep favoritnya terdiri dari olahan sayur dan buah. Tiga diantaranya adalah Lodeh Bumbu Gangsa, Asem-Asem, dan Gedang Goreng.
Dikutip dari buku karya Fadly Rahman berjudul Jejak Rasa Nusantara (Gramedia Pustaka Utama, 2023), Kartini juga menggemari seni memasak Eropa. Dia berusaha mengadopsi pengetahuan tersebut untuk para ibu pribumi.
Dalam suratnya kepada Abendanon, Kartini berujar, “Kursus dalam ilmu kerumahtanggaan dan pekerjaan tangan pasti akan merupakan kegiatan yang mengasyikkan benar bagi perempuan Jawa. Bukankah hampir semua ibu bangsa Jawa, bercita-cita agar anak-anaknya yang perempuan kelak akan dapat memasak dan membuat pekerjaan tangan dengan baik sekali?”.
Surat-surat tersebut menggambarkan bagaimana Kartini berupaya memajukan perempuan Pribumi Jawa melalui pendidikan memasak.
Merayakan Kartini tidak melulu dengan cara berkebaya dan memakai sanggul. Merayakannya bisa dilakukan dengan menjaga dan mempraktikkan khasanah kuliner Kartini.
Saatnya menjadi Kartini dari dapur rumah Anda!*

