“Rusia berdiri di pihak yang benar dalam sejarah dan dalam hukum internasional,” ujar Araghchi.
Meski belum dijelaskan secara rinci bentuk bantuan apa yang akan diberikan, Iran dan Rusia diketahui menjalin hubungan erat, termasuk penandatanganan perjanjian kerja sama strategis pada Januari lalu. Perjanjian tersebut, meski tidak memuat klausul pertahanan bersama, mencerminkan hubungan diplomatik yang kian erat antara kedua negara.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rusia siap memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Iran. Termasuk di dalamnya adalah tawaran mediasi Rusia untuk meredakan konflik antara Iran dan Israel yang tengah memanas.
Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya juga telah mengecam keras serangan udara AS. Mereka menilai aksi tersebut sebagai tindakan sembrono yang melanggar hukum internasional serta memperburuk stabilitas kawasan.
“Eskalasi saat ini sangat berbahaya dan mengancam keamanan baik di tingkat regional maupun global,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian.
Sebagaimana diketahui, serangan AS menarget tiga fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa ketiga situs tersebut telah hancur. Namun, klaim itu segera dibantah oleh para pejabat Iran yang menyatakan bahwa infrastruktur nuklir mereka masih utuh.***





