Sementara itu, pejabat tinggi pengawasan senjata AS, yang merupakan Wakil Menteri Luar Negeri AS Bonnie Jenkins, mengaku yakin bahwa Korea Utara tertarik untuk memperoleh pesawat tempur, rudal permukaan-ke-udara, kendaraan lapis baja, peralatan atau bahan produksi rudal balistik, dan teknologi canggih lainnya dari Rusia.
Beberapa ahli mengatakan bantuan langsung untuk program senjata Korea Utara bakal menandai perubahan signifikan dalam kebijakan Rusia sejak berakhirnya perang dingin—di mana sebagiannya didorong oleh kebutuhan medan perang di Ukraina.
James Acton, salah satu direktur program kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan, “Gambaran besarnya adalah seberapa besar Rusia mengevaluasi kembali kepentingannya terhadap Korea Utara yang memiliki senjata nuklir.”
Acton menambahkan, Rusia barangkali memandang Korea Utara—yang memiliki senjata nuklir—sebagai sebuah “fait accompli” dan menentang proliferasi bersama AS, dengan imbalan bantuan material yang sangat dibutuhkan dalam perang di Ukraina.
Rusia, kata Acton, mungkin masih belum siap untuk memberikan dukungan langsung terhadap program nuklir Korea Utara, dan cenderung membantu program rudal atau kapal selam.♦





