Kiai Zulfa menyampaikan bahwa karya sastra dalam bingkai kajian kesusteraan Arab, dapat diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, nars yaitu karya sastra berbentuk prosa yang tidak terikat oleh timbangan syair, serta ketukan rima. Kedua, syi’ir yaitu karya sastra bentuk badan, yang terikat oleh timbangan syair serta ketukan rimanya.
“Syair itu indah, Allah itu indah, Al-Qur’an itu indah, saya menggunakan yang indah ini untuk menyampaikan pemikiran kebenaran dengan keindahan,” tutur Kiai Zulfa Mustofa dalam pidatonya.
Kiai Zulfa menjelaskan bahwa syair itu banyak mengandung hikmah dan kata kata mutiara. Salah satu syair Ka‘b ibn Zuhayr atau Ka’ab bin Zuhair, setelah mendapat hidayah masuk Islam, adalah seorang penyair Arab pada abad ke-7 dan tokoh sezaman dengan Nabi Muḥammad.
Ia adalah penulis Banat Suʿad (Su’ad Telah Pergi), sebuah kasidah yang memuji Muhammad. Karya tersebut adalah na’at pertama dalam bahasa Arab.
“Jadi, syair yang menjelek-jelekkan dilarang, tetapi syair yang baik diperbolehkan. Dan syair terus berkembang, termasuk di Indonesia dengan menyebutkan sejumlah syair karya ulama Indonesia, termasuk Syaikhona Kholil Bangkalan,” paparnya.
Bahkan, menurut kiai Zulfa Mustofa, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari merupakan sosok penyair hebat, di mana syairnya dalam bahasa Arab ketika memuji Syekh Abdullah Ubaid bin Ali penuh hikmah dan indah.
Dijelaskan bahwa, mbah Hasyim (Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari) memberikan pendidikan kepada kita pendidikan karakter melalui syair. “Mungkin sudah banyak yang lupa. Oleh karena itu, saya ingin menghidupkan kembali untuk mewujudkan kata-kata yang indah menuju perbuatan yang indah. Karena ulama ulama sudah memberikan contoh, untuk mendidik karakter dengan syair. Semoga bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” tandas Kiai Zulfa.
Profil KH. Zulfa Mustofa
Pria kelahiran 7 Agustus 1977 ini dikenal sebagai tokoh dengan segudang pengalaman di Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU masa khidmat 2022-2027, Kiai Zulfa juga pernah menduduki posisi penting di MUI DKI Jakarta, termasuk sebagai Ketua Bidang Fatwa.





