Puasa adalah Tradisi Asli Nusantara yang Disempurnakan oleh Islam

Anak-anak Jawa zaman dahulu mengaji di surau. Masyarakat Jawa sudah mengenal tradisi puasa sejak jauh sebelum Islam datang. (Dok. Istimewa)

Menurut kajian Turita Indah Setiani, kisah Arjuna yang diangkat Sunan Kalijaga dalam lakon carangan mengajarkan konsep tapa brata atau semadi melalui seni sastra simbolik yang mengandung nilai-nilai filosofi kehidupan.

Bersatunya panah Arjuna dan panah Dewa Indra—yang kemudian disebut Panah Pasopati—menurut Turita, adalah simbol keberhasilan proses semadi untuk menyatukan pikiran dengan kehendak Dewata atau Tuhan Yang Mahakuasa.

Bacaan Lainnya

Nama “Panah Pasopati” sendiri mengandung makna simbolis. “Paso”, dalam bahasa Jawa kuno, berarti “hewan”, yang menjadi simbol dari nafsu. Sedangkan “pati” berarti “mati”. “Pasopati” bisa diartikan sebagai “pembunuh hawa nafsu”.

Wujud babi hutan—yang menyerang Arjuna di awal perjalanannya—merupakan simbol keserakahan. Babi adalah hewan pemakan segala.

Sedangkan babi raksasa merupakan simbol keserakahan dan angkara murka yang luar biasa—yang dalam kisah lakon carangan disebut “guna tamas”. Guna tamas hanya dapat ditundukkan oleh pikiran suci yang selaras dengan kehendak Dewata.

Ular dalam lakon carangan merupakan simbol yang dipilih Sunan Kalijaga untuk menggambarkan rasa dengki dan iri. Dua kotoran jiwa itu bisa dapat melilit dan membelenggu manusia—seperti ular raksasa yang melilit tubuh Arjuna. Dua kepala ular merupakan perlambang dari bahayanya orang iri, yang bermulut manis di depan, namun menikam dari belakang.

Sedangkan raksasa merupakan simbol kemarahan dalam diri manusia. Jika kemarahan dilawan dengan kemarahan juga, dia akan makin besar. Kemarahan hanya bisa dikalahkan oleh ketenangan jiwa.

Sementara godaan bidadari cantik—yang dikirimkan Dewa Indra untuk menggoda Arjuna—adalah simbol godaan hawa nafsu.

Sunan Kalijaga memilih kisah dan tokoh pewayangan untuk mengajarkan konsep syariat Islam karena wayang adalah simbol yang sudah akrab dengan masyarakat Nusantara lama—yang juga sudah mengenal konsep puasa sebelum Islam hadir.

Memanfaatkan lakon carangan, Sunan Kalijaga mengajarkan masyarakat Jawa tentang orientasi puasa menurut ajaran Islam, yaitu untuk menekan keserakahan, iri, dengki, amarah, dan hawa nafsu. Tujuannya untuk membersihkan jiwa manusia dari segala bentuk kotoran sehingga bisa mencapai kesucian hakiki—yang dilambangkan dengan keberhasilan Arjuna mendapatkan Panah Pasopati.

Metodologi dakwah Sunan Kalijaga pun memperkuat keyakinan masyarakat Nusantara terhadap ibadah puasa—ritual yang telah mereka kerjakan sejak jauh hari sebelum Islam datang—dan menyempurnakan praktik serta orientasinya.

Hasilnya, masyarakat Nusantara asli pun memahami puasa sebagai tradisi sekaligus perintah agama yang dikerjakan berdasarkan keyakinan yang kokoh. ◼︎

Pos terkait