Tradisi puasa weton yang lahir dari kalender Sultan Agung pada 1633 kini menemukan gaungnya di laboratorium sains modern — dari kronobiologi hingga neurosains puasa.
Kalender Jawa yang dicanangkan Sultan Agung dimulai pada 8 Juli 1633, memadukan sistem Saka dengan Hijriah — sebuah keputusan politik-spiritual yang melahirkan tradisi berpuasa pada hari weton, yakni hari kelahiran seseorang yang berulang setiap 35 hari sekali.
Selama hampir empat abad, tradisi ini hidup tanpa butuh justifikasi ilmiah. Kini justifikasi itu mulai datang sendiri.
Jam Biologis dan Waktu Kelahiran
Pada 2017, Jeffrey Hall, Michael Rosbash, dan Michael Young meraih Nobel Fisiologi atas penemuan mekanisme jam sirkadian — jam biologis internal yang mengatur tidur, metabolisme, dan imunitas. Studi dari Universitas Vanderbilt yang terbit di Nature Neuroscience (2010) menemukan bahwa paparan cahaya saat lahir memengaruhi ritme sirkadian secara permanen.
Orang Jawa percaya weton membawa “energi” spesifik. Kronobiologi belum membuktikan klaim metafisik itu — tapi membuktikan bahwa tubuh manusia tidak sepenuhnya acak terhadap waktu kelahirannya.
Autofagi dan Refleksi Berkala
Puasa intermiten mengaktifkan autofagi — pembuangan sel rusak oleh tubuh secara mandiri. Yoshinori Ohsumi meraih Nobel 2016 atas penemuan ini. Riset di Journal of Behavioral Medicine (2019) mencatat bahwa puasa dengan niat spiritual menghasilkan penurunan kecemasan lebih signifikan dibanding puasa biasa.
Secara psikologis, Hengchen Dai dari Universitas Washington membuktikan bahwa penanda waktu yang bermakna mendorong refleksi dan reset perilaku — persis fungsi weton yang berulang setiap 35 hari.
Sultan Agung pada 1633 mungkin tidak tahu apa itu kortisol. Tapi ia tahu manusia butuh sistem untuk mengatur diri terhadap waktu. Empat abad kemudian, para pemenang Nobel membuktikan hal yang sama — dengan bahasa yang berbeda.
Selengkapnya baca di sini.





