Alkisah, di tengah perjalanannya Arjuna bertemu babi hutan raksasa dengan perut yang sangat besar. Babi itu mengejar, menyeruduk, dan menanduk Arjuna. Babi itu akhirnya tewas setelah Arjuna melepas anak panah ke perutnya yang besar.
Pada tahap perjalanan selanjutnya, rintangan kembali menghalangi Arjuna. Datang ular berkepala dua, mengejar, mematuk, dan melilit tubuhnya. Ketika Arjuna menarik ekornya, kepala ular itu mematuk. Jika Arjuna menjerat satu kepalanya, kepala lain menyerang dari belakang. Arjuna dibikin kelimpungan.
Arjuna tidak menyerah. Dia berusaha semakin keras, hingga akhirnya berhasil lepas dari lilitan si ular. Selanjutnya Arjuna melepaskan dua mata panah sekaligus, yang menancap tepat di dua kepala ular tersebut. Makhluk itu lenyap dan Arjuna kembali melanjutkan perjalanan.
Pertempuran dengan babi dan ular membuat Arjuna letih. Dia pun beristirahat dan mandi di sebuah telaga yang jernih.
Di tepi telaga tersebut terdapat gua yang sangat besar. Ketika Arjuna sedang mandi, dari dalam gua keluar raksasa bermuka merah. Raksasa itu marah karena Arjuna mandi di telaga miliknya.
Ujian Arjuna ternyata belum berakhir. Arjuna harus bertempur dengan raksasa yang sakti mandraguna.
Kali itu Arjuna betul-betul kewalahan. Keahilan memanahnya tak mampu menaklukkan si raksasa. Setiap kali Arjuna memukul kepala raksasa tersebut, makhluk itu justru makin besar dan kuat.
Arjuna hampir kehilangan akal, hingga akhirnya sadar bahwa apa yang ia hadapi tidak akan selesai dengan jurus fisik biasa.
Arjuna pun melompat ke belakang, mengambil jarak dengan si raksasa. Dia duduk bersila, menangkupkan tangan, memusatkan pikiran dan berserah diri kepada Hyang Widhi. Degup jantungnya turun dan melambat. Kemarahan—yang muncul dari dari pertempurannya dengan raksasa—perlahan padam.
Semakin Arjuna mengheningkan cipta, raksasa yang menyerangnya menyusut makin kecil. Semakin amarah Arjuna padam, makin kecil pula raksasa tersebut. Di akhir meditasi, raksasa tersebut sirna dan menghilang.
Setelah itu Arjuna melanjutkan perjalananannya.
Begitu sampai di puncak Gunung Indrakila, Arjuna langsung bersemadi. Saking kuatnya semadi Arjuna, konon aura yang dipancarkannya membuat Swargaloka atau khayangan menjadi panas. Batara Indra, yang dikisahkan sebagai penguasa khayangan, pun mengirimkan bidadari paling cantik bernama Dewa Supabra untuk menggoda Arjuna.
Akan tetapi, Arjuna tak tergoda. Maka dari itulah dia diberi hadiah berupa Panah Pasopati, yang merupakan penyatuan dari panah Arjuna dengan panah Dewa Indra. Panah Pasopati dikisahkan bisa membunuh raksasa di khayangan dan mengalahkan Karna dan Jayadrata pada kisah yang lain.





