Intermittent Fasting vs Puasa Ramadan: Mirip Polanya, Beda Tujuan dan Aturan Gizi

Ilustrasi puasa. - mos.cms.futurecdn.net
Sama-sama mengatur waktu makan, intermittent fasting dan puasa Ramadan sering dianggap serupa. Padahal, tujuan, aturan minum, hingga prinsip gizinya memiliki perbedaan mendasar.

Intermittent fasting kerap menjadi tren pola makan yang diklaim efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik. Di sisi lain, umat Muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadan sebagai bentuk ibadah. Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari segi tujuan maupun penerapan gizinya.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi S Gz M Si PhD, menjelaskan bahwa perbedaan utama antara intermittent fasting dan puasa Ramadan terletak pada tujuan pelaksanaannya.

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelasnya, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Bacaan Lainnya
Konsep Time-Restricted Eating

Secara umum, baik intermittent fasting maupun puasa Ramadan sama-sama menerapkan konsep time-restricted eatingatau pengaturan jendela makan. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka. Selama periode tersebut, umat Muslim tidak diperbolehkan makan maupun minum.

Adapun intermittent fasting memiliki variasi pola yang lebih beragam. Pola yang paling populer adalah metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Misalnya, seseorang hanya makan pada pukul 12.00 hingga 20.00, lalu berpuasa hingga keesokan harinya.

Selain metode 16:8, terdapat pula pola 5:2 (lima hari makan normal dan dua hari pembatasan kalori), eat stop eat, hingga one meal a day (satu kali makan dalam sehari).

“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman nonkalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.

Pos terkait