Bahaya Tidur Setelah Sahur: Risiko GERD hingga Stroke Mengintai!

Tidur Usai Sahur
Ilustrasi orang tidur. - Pixabay
Di antara damai menjelang Subuh dan sisa kantuk yang menggantung, kebiasaan langsung tidur setelah sahur ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tak sepele.

Di bulan Ramadan, sahur sering kali menjadi momen yang terburu-buru: makan secukupnya, meneguk air terakhir, lalu kembali ke kasur sebelum azan berkumandang. Namun, dari sudut pandang medis, jeda yang terlampau singkat antara makan dan tidur bisa mengganggu ritme alami tubuh.

Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dede Nasrullah, mengingatkan bahwa tubuh membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencerna makanan dengan optimal. Proses ini bukan sekadar rutinitas biologis, melainkan kerja kompleks yang melibatkan lambung, usus, enzim, dan sistem saraf.

Ketika seseorang langsung berbaring setelah sahur, tubuh memasuki mode istirahat. Hampir seluruh fungsi organ melambat—kecuali otak, jantung, dan paru-paru. Dalam kondisi tersebut, makanan yang baru dikonsumsi tidak tercerna secara maksimal.

Bacaan Lainnya

Akibat yang paling sering muncul adalah refluks asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Dalam penjelasannya, Dede menggambarkan bagaimana cairan asam lambung dapat mengalir kembali ke tenggorokan ketika seseorang tertidur. Saat posisi tubuh horizontal, klep lambung cenderung lebih rileks, membuka peluang bagi asam lambung naik ke kerongkongan.

Gejalanya tidak asing: sensasi panas di dada, tenggorokan terasa terbakar, mual, sering bersendawa, hingga rasa pahit di mulut. Keluhan-keluhan ini kerap dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda gangguan pencernaan yang berulang.

Karena itu, ia menyarankan agar umat Muslim memberi jeda sebelum kembali beristirahat, setidaknya tiga jam setelah makan. “Dengan menunggu sekitar tiga jam, makanan dapat diolah secara sempurna oleh tubuh,” ujarnya seperti dikutip Jumat (20/2/2026).

Risiko yang Tak Terlihat

Dampaknya tak berhenti pada gangguan lambung. Tidur setelah sahur juga berpotensi memicu penumpukan lemak. Kalori yang masuk tidak terpakai sebagai energi karena tubuh langsung memasuki fase istirahat. Terlebih jika menu sahur didominasi karbohidrat dan lemak, surplus energi cenderung disimpan dalam bentuk lemak tubuh.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa memperburuk profil metabolik seseorang.

Dede juga menyoroti kemungkinan peningkatan tekanan darah. Mengonsumsi makanan berat lalu segera tidur dapat memicu lonjakan tekanan darah. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko penyakit kardiovaskular meningkat.

Ia menjelaskan bahwa tekanan darah yang tidak kunjung stabil dapat membuka jalan bagi penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, hingga penyakit kronis lainnya. Risiko tersebut tidak selalu terasa dalam waktu dekat, tetapi bekerja secara perlahan, membentuk akumulasi dampak pada sistem kardiovaskular.

Bahkan, ia menambahkan, kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan risiko stroke. Saat sistem pencernaan bekerja keras mencerna makanan, suplai darah lebih banyak terfokus pada organ-organ tersebut. Dalam kondisi tertentu dan berlangsung lama, otak dapat mengalami kekurangan suplai oksigen.

Selain itu, posisi berbaring setelah makan juga dapat menghambat proses pengosongan lambung. Normalnya, pengosongan lambung membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Jika proses ini terhambat karena posisi tubuh, risiko konstipasi atau sembelit pun meningkat.

Sembelit bukan hanya persoalan ketidaknyamanan. Dalam beberapa kasus, gangguan ini dapat memicu masalah kesehatan lanjutan, terutama jika terjadi berulang selama Ramadan.

Mengelola Sahur dengan Lebih Bijak

Anjuran untuk tidak langsung tidur bukan berarti mengorbankan waktu istirahat sepenuhnya. Ia lebih merupakan ajakan untuk mengelola waktu sahur dengan bijak—memilih menu yang seimbang, tidak berlebihan, dan memberi ruang bagi tubuh menyelesaikan tugas alaminya.

Ramadan, pada akhirnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menata ulang kebiasaan. Di tengah disiplin spiritual, ada pula disiplin biologis yang perlu dijaga.

Memberi jeda tiga jam sebelum tidur mungkin terdengar sederhana. Namun, di situlah tubuh diberi kesempatan bekerja tanpa gangguan—mengolah nutrisi, menstabilkan tekanan darah, dan menjaga keseimbangan sistem pencernaan.

Di balik rutinitas sahur yang singkat, tersimpan pesan yang lebih luas: kesehatan bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana tubuh diperlakukan setelahnya.***

Pos terkait