- SMA Negeri 10 Fajar Harapan – Banda Aceh
- SMA Unggul DEL – Sumatera Utara
- MAN Insan Cendekia – Ogan Komering Ilir, Sumsel
- SMA Negeri Unggulan M.H. Thamrin – Jakarta
- SMA Cahaya Rancamaya – Jawa Barat
- SMA Pradita Dirgantara – Surakarta, Jawa Tengah
- SMA Taruna Nusantara – Magelang
- SMA Negeri Banua – Kalimantan Selatan
- SMA Negeri Siwalima – Maluku
- SMA Averos – Papua Barat Daya
- SMA Negeri 10 – Samarinda
- MAN Insan Cendekia – Gorontalo
Mendapat Apresiasi, Tapi …
Imam Fitri Rahmadi, Dosen Prodi S2 Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengapresiasi ide pendirian dua Sekolah Garuda itu. Menurut dia, pengembangan kedua sekolah tersebut menjawab tantangan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Namun demikian, Imam menyarankan agar kedua Sekolah Garuda bukan sekadar proyek, tetapi harus transformatif, mempromosikan proses dan lingkungan belajar inovatif yang terpersonalisasi dengan kompetensi guru dan karakteristik siswa.
“Konsern saya terletak pada integrasi teknologi pendidikan ke dalam sekolah garuda baru maupun sekolah garuda transformasi yang harus transformatif, mempromosikan proses dan lingkungan belajar inovatif yang terpersonalisasi dengan kompetensi guru dan karakteristik siswa”, kata Imam kepada Samudrafakta, Kamis, 5 Juni 2025.
FGSNI: Sebelum Fokus Sekolah Garuda, Realisasikan Tambahan Tunjangan Guru PPG Kemenag
Sementara itu, menurut pandangan Forum Guru Sertifikasi Nasional (FGSNI), ada catatan untuk Sekolah Garuda. Menurut Ketua Umum FGSNI, Agus Muchtar, program ini bias, tidak fokus pada perbaikan peningkatan kondisi pendidikan yang sudah ada.
“Proyek bidang pendidikan, seperti Sekolah Rakyat dan proyek sekolah unggulan Garuda, tidak menyelesaikan problem pendidikan yang ada. Malah membuat program program yang tidak berdampak pada peningkatan pendidikan secara umum,” ujar Agus kepada Samudra Fakta, Kamis, 5 Juni 2025.
Menurut FGSNI, Pemerintah lebih baik fokus pada pembenahan dan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru serta infrastruktur pendidikan yang sudah ada.
Agus juga menilai jika anggaran pendidikan lebih baik diinvestasikan untuk pengembangan kurikulum yang relevan dan inklusif, perbaikan infrastruktur yang merata, dan memastikan akses pendidikan yang adil bagi setiap anak bangsa.***





