Pada Mei 1983, Prabowo menikah dengan Siti Hediati Hariyadi, putri dari Presiden Soeharto. Keduanya dikaruniai seorang anak, Ragowo Hediprasetyo atau lebih dikenal dengan Didiet.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2842475/original/039317100_1562053386-60819132_173709083648268_3060489586538362550_n.jpg)
Sejak pernikahan ini, karir militer Prabowo kian moncer. Pada tahun 1985, Prabowo menjadi Wakil Komandan Bayalyon Infanteri Lintas Udara 328. Lalu, pada 1991 dia menjabat Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 yang bermarkas di Cijantung.
Dua tahun setelah itu, Prabowo kembali ke pasukan khusus, yang sudah berganti nama menjadi Kopassus. Dia diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal pada 1995.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F01%2F16%2F8d82e24c-f920-4eb9-b7fe-901eeeb767fe_jpg.jpg)
Pada detik-detik lengsernya Soeharto hingga Mei 1998, muncul tuduhan terhadapnya terkait penculikan sejumlah aktivis. Sampai akhirnya, dia harus diberhentikan dari dinas kemiliteran.
Pada periode ini Prabowo juga bercerai dengan istrinya.
Dewan Kehormatan Perwira (DKP) menggelar sidang pada Agustus 1998 yang hasilnya menjatuhkan sanksi administrasi kepada Prabowo berupa pemberhentian dari dinas kemiliteran.
Sidang ini terkait dengan kasus hilangnya sejumlah aktivis politik yang dilakukan anggota Kopassus dan Prabowo.

Kasus yang dinilai sejumlah kalangan ini belum tuntas ini tidak mengurai kebenarannya, dan selalu menjadi isu setiap Pemilu yang diikuti Prabowo Subianto.
Setelah berhenti dari dinas kemiliteran, Prabowo merintis usaha di Yordania dan Jerman. Setelah itu dia kembali ke Indonesia dan mendirikan Partai Gerindra pada 2008.
Di Indonesia, perusahaan yang digawangi Prabowo bergerak di bidang minyak kelapa sawit, migas, pertambangan, kehutanan, pertanian dan pulp serta perikanan.*





