Peter F. Gontha Kritik Timnas Indonesia: Lebih Baik Kalah dengan Terhormat daripada Menang Pakai Modus Mie Instan

Kiper Maarten Paes bermain spartan untuk timnas Indonesia. Foto:PSSI
JAKARTA – Peter F. Gontha, mantan Duta Besar Polandia, baru-baru ini menyampaikan kritik tajam terhadap tim nasional sepak bola Indonesia. Dalam unggahannya di Instagram dikutip pada Kamis (12/9/2024), Gontha menilai bahwa timnas Indonesia tidak benar-benar mewakili bangsa ini, mengingat sebagian besar pemainnya merupakan diaspora.

“Lebih baik kalah dengan terhormat daripada menang dengan modus mie instan. Yang realistis mengerti, yang mimpi marah-marah,” tulis Gontha.

Komentar ini muncul setelah timnas Indonesia bermain imbang 0-0 melawan Australia dalam laga kedua Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Selasa (10/9), menampilkan sebelas pemain Indonesia, sembilan di antaranya merupakan pemain diaspora.

Dalam laga tersebut, starting line-up Indonesia terdiri dari Maarten Paes, Sandy Walsh, Rizky Ridho, Jay Idzes, Justin Hubner, Calvin Verdonk, Ivar Jenner, Nathan Tjoe A On, Marselino Ferdinand, Rafael Struick, dan Ragnar Oratmangoen.

Bacaan Lainnya

Pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong, mengungkapkan kepuasannya atas performa pemainnya, yang dinilainya telah menunjukkan kerja keras dan permainan yang baik selama dua pertandingan terakhir.

“Pada pertandingan melawan Arab Saudi dan Australia, para pemain sangat bekerja keras dan bermain bagus. Saya puas karena mereka sudah melakukan apa yang bisa mereka lakukan,” kata Shin Tae-yong.

Ia juga menyanjung kinerja Maarten Paes yang mencatat lima penyelamatan penting, menjadikannya sebagai pemain terbaik dalam pertandingan tersebut.

Dengan hasil imbang ini, Indonesia kini menempati peringkat keempat dalam klasemen sementara Grup C dengan dua poin. Selanjutnya, skuad Garuda akan menghadapi Bahrain pada 10 Oktober dan China pada 15 Oktober.

Peter F. Gontha dalam pernyataannya juga mengajak publik untuk merenungkan beberapa pertanyaan penting terkait sepak bola nasional.

Apakah kita tidak malu melihat pemain yang dinaturalisasi mengisi hampir seluruh tim? Apakah lebih baik membina pemain muda lokal daripada bergantung pada pemain asing yang mungkin hanya sementara?

Pos terkait