Pertamax Naik 32 Persen, Warga Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

Ilustrasi antrean pertalite di salah satu SPBU di Jakarta, Kamis (11/6/2026). (Samudrafakta/Anwar H.)
Kenaikan harga Pertamax Rp3.950 per liter memicu gelombang migrasi ke Pertalite di berbagai daerah. CELIOS memperingatkan kelas menengah rentan paling terdampak, bukan hanya kelompok kaya.

PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Ini merupakan kenaikan harga Pertamax perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Kenaikan sekitar 32 persen itu langsung memantik reaksi luas dari masyarakat. Di Bondowoso, Jawa Timur, warga bernama Wahyudi mengaku langsung beralih ke Pertalite begitu mengetahui informasi kenaikan harga, rela antre puluhan menit. Kondisi serupa terpantau di Lumajang, Banyuwangi, dan Malang.

Bacaan Lainnya

Pengemudi ojek daring asal Manggarai, Syahrul, mengeluhkan kenaikan itu berdampak langsung terhadap biaya operasional sehari-harinya. Di platform X, kata kunci Pertamax dan Pertamina mendadak masuk jajaran topik perbincangan hangat, dengan warganet mengaitkan kebijakan ini pada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

Pemerintah: Inflasi Tidak Akan Terpengaruh Besar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas. “Harusnya relatif minim, karena kan Pertamax enggak dipakai buat angkutan barang,” ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Soal mekanisme pengawasan penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi, Purbaya menyerahkan sepenuhnya kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

CELIOS Bantah: Bukan Cuma Orang Kaya yang Terpukul

Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengungkapkan bahwa anggapan seluruh pengguna Pertamax berasal dari kalangan mampu merupakan pandangan yang kurang tepat.

“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya,” jelas Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS kepada media, dikutip Kamis (11/6/2026).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan