Pemerintah Prancis secara resmi mengakui peran seorang imam Muslim di masjid, rumah sakit, dan militer sebagai profesi. Juga menambahkan profesi itu ke dalam daftar pekerjaan dalam Badan Ketenagakerjaan Prancis.
Mengutip laporan Anadolu, Selasa, 18 Februari 2025, Menteri Dalam Negeri Prancis Bruno Retailleau menyampaikan pengumuman tersebut dalam sesi penutupan pertemuan kedua Forum Islam Prancis (FORIF). Pertemuan sengaja digelar untuk menyoroti pentingnya pengakuan terhadap imam Muslim.
Kata Retailleau, dialog antara negara dan perwakilan Muslim harus didasarkan pada kepercayaan dan tanggung jawab. Dia juga menekankan bahwa umat Islam menolak distorsi keyakinan mereka oleh ideologi-ideologi ekstremis.
Untuk menegaskan bahwa negara tidak boleh mencampuri lembaga-lembaga keagamaan, Retailleau menyatakan, negara dapat memberikan dukungan untuk berbagai aktivitas umat Muslim. Maka, peran seorang imam telah secara resmi dimasukkan dalam daftar resmi profesi yang diakui di Prancis, sebagai bagian dari inisiatif tersebut.
Retailleau menggambarkan jika langkah tersebut merupakan langkah bersejarah, yang menandai pengakuan pertama terhadap eksistensi seorang pemimpin Muslim di Prancis. Dia juga mengumumkan pembuatan deskripsi pekerjaan resmi dan kontrak kerja bagi para imam Muslim, serta menyediakan kerangka kerja terstruktur untuk pekerjaan mereka.
Soal kekhawatiran Islamofobia di Prancis, di mana ada 173 serangan anti-Muslim di Prancis tahun lalu, Retailleaut mengakui jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, karena kurangnya pelaporan oleh para korban.
Untuk memerangi kejahatan tersebut, kata Retailleau, Pemerintah Prancis memperkenalkan platform pengaduan baru yang didedikasikan untuk melaporkan insiden Islamofobia.***




