
Pope ‘mangkal’ di Lapangan Udara Mapanget—sekarang Lanud Sam Ratulangi—di utara Kota Manado, Sulawesi Utara. Sebelumnya dia pernah ‘mangkal’ di Lanud Clark, dekat Kota Manila, Filipina, yang merupakan pangkalan udara militer Amerika Serikat.
Pesawat yang diawaki Pope, B-26 Invader, ditembak jatuh TNI di Maluku pada 18 Mei 1958. Saat itu Pope, seorang pensiunan militer AS, tengah menjalani misi pengeboman CIA untuk menyokong pemberontakan Permesta. Pemerintah AS tak tinggal diam dengan penangkapan Pope itu, sementara Presiden Sukarno tak mau melepasnya secara gratis. Amerika pun menawarkan barter.
Upaya barter Pope tersebut dibahas ketika Sukarno berkunjung ke AS pada 18-25 April 1961. Presiden AS waktu itu, John F. Kennedy, sepakat memberikan bantuan kepada Indonesia berupa 10 Hercules tipe B, (8 kargo dan 2 tanker) serta pembangunan jalan bypass dari Cawang ke Tanjung Priok. Selain itu, ada helikopter Bell-47 J2A Roger, yang kemudian menjadi heli kepresidenan. Semua itu untuk ‘tukar guling’ dengan Alen Pope.
Heli yang dinamai Walet itu hingga kini masih teronggok di salah satu hanggar Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung. Status resmi Heli ini adalah hadiah dari Kennedy untuk Bung Karno—tetapi sejatinya merupakan bagian dari barter dengan Pope. Itulah salah satu kelebihan diplomasi Bung Karno.
Setahun setelah pertemuan Sukarno dan Kennedy, sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Pope dikirim ke AS melalui Bandara Kemayoran, Jakarta, pada Februari 1962.
Sebelum Pope dipulangkan, masih seperti yang ditulis Cindy, Sukarno berpesan, “Jangan muncul ke publik, jangan membuat cerita aneh-aneh. Pulang dan menghilanglah dan kami akan melupakan semuanya’.” (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, edisi revisi 2014, halaman 327.





