GAZA – Hamas mendesak para mediator, termasuk Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir, untuk segera menerapkan rencana gencatan senjata di Gaza yang diajukan oleh Presiden AS Joe Biden, daripada mengadakan negosiasi baru, Minggu (11/8/2024).
Dalam pernyataannya seperti dilansir Arab News, Hamas menegaskan agar para mediator “menyajikan rencana untuk mengimplementasikan apa yang telah mereka usulkan kepada gerakan ini berdasarkan visi Biden dan resolusi Dewan Keamanan PBB, serta memaksa pendudukan (Israel) untuk mematuhinya.”
Undangan untuk putaran negosiasi baru telah disampaikan kepada Israel dan Hamas pada Kamis (8/8/2024), tak lama setelah pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran. Israel telah menyetujui putaran baru pembicaraan gencatan senjata di Gaza dengan tujuan memfasilitasi pembebasan sandera yang masih ditahan di wilayah Palestina.
Iran dan Hamas menyalahkan Israel atas pembunuhan Haniyeh.
Sejauh ini, beberapa upaya untuk mencapai gencatan senjata di Gaza telah mengalami kegagalan, kecuali gencatan senjata singkat selama satu minggu pada akhir November, yang memungkinkan pembebasan sejumlah sandera dengan imbalan puluhan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Pada 31 Mei, Biden memperkenalkan rencana tiga tahap untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. Fase pertama mencakup gencatan senjata penuh selama enam minggu, di mana pasukan Israel akan menarik diri dari seluruh daerah berpenduduk di Gaza. Hamas, di sisi lain, akan membebaskan sejumlah sandera, termasuk wanita, orang tua, dan yang terluka.
Fase kedua, yang berlangsung enam minggu berikutnya, mengharuskan pasukan Israel sepenuhnya mundur dari Gaza, sementara Hamas diharapkan membebaskan semua sandera yang tersisa. Jika kesepakatan ini berhasil, maka akan mengarah pada penghentian permusuhan secara permanen.
Tahap ketiga akan dimulai dengan program rekonstruksi besar-besaran untuk Gaza yang didukung oleh Amerika Serikat dan komunitas internasional.
Serangan Hamas pada 7 Oktober lalu menyebabkan kematian 1.198 orang, sebagian besar warga sipil, dan menahan 251 orang, dengan 111 di antaranya masih berada di Gaza. Sementara itu, serangan balasan Israel telah menewaskan sedikitnya 39.790 orang, menurut laporan kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.*





