Sementara itu, mitigasi nonstruktural meliputi penyusunan sistem peringatan dini (early warning system) berbasis sirene maupun notifikasi digital yang terintegrasi dengan prediksi pasang surut air laut dan cuaca ekstrem.
Hijrah juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran drainase.
“Sosialisasi sederhana tetap penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Jika diperlukan, pelanggaran dapat disertai sanksi atau denda,” ujarnya.
Manfaatkan Teknologi IoT
Menurut Hijrah, solusi penanganan banjir rob di Kalianak harus terintegrasi dengan karakter kawasan yang padat penduduk dan memiliki aktivitas ekonomi tinggi.
Ia mengusulkan penguatan sistem pompa dan pintu air yang bekerja secara adaptif mengikuti jadwal pasang laut dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT).
“Saat sensor mendeteksi air laut mulai naik, pintu air dapat menutup secara otomatis dan pompa langsung bekerja mengalirkan genangan ke laut,” jelasnya.
Untuk jangka panjang, Hijrah menyarankan pembangunan tanggul atau flood wall yang ramah lingkungan sebagai pelindung kawasan pesisir.
Namun, ia menilai langkah paling strategis adalah melakukan relokasi secara bertahap terhadap warga yang tinggal di kawasan dengan risiko banjir rob tinggi.
“Relokasi memang sensitif karena banyak warga telah lama bermukim di kawasan tersebut. Namun, langkah ini perlu dipertimbangkan demi keselamatan masyarakat,” pungkasnya.***





