Setelah dua bulan, kasus penganiayaan yang melibatkan George Sugama Halim, anak bos toko roti di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, terhadap karyawan toko, D, baru ditindaklanjuti oleh Polisi.
Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies atau ISESS, Bambang Rukminto menilai lambatnya penanganan kasus penganiayaan karyawan toko roti itu merupakan problem lama di institusi kepolisian.
Sebagaimana diketahui, kasus George itu baru diproses secara serius setelah videonya viral. Dia ditangkap di Anugrah Hotel Sukabumi, Jawa Barat, pada Senin, 16 Desember 2024, dan malamnya langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Metro Jakarta Timur.
Dia dijerat Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dan terancam hukuman penjara hingga lima tahun.
Terkait kelambatan itu, menurut Bambang Rukminto, biasanya polisi beralasan laporan yang diterima sangat banyak, sehingga penyidik membuat skala prioritas. Namun, kata Bambang, skala prioritas itu justru acap kali dijadikan dalih untuk tidak menindaklanjuti kasus-kasus atau laporan masyarakat yang tidak mendapatkan ‘dukungan’ materi, kekuasaan dan kekuatan medsos melalui tagar #NoViralNoJustice.
“Dengan posisi korban yang lemah, sementara pelaku memiliki posisi yang dominan, patut diduga memang polisi bekerja karena tekanan viral lebih dulu,” jelas Bambang, Senin, 16 Desember 2024.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan menegaskan pentingnya Polri agar lebih responsif menangani laporan, tanpa menunggu kasus yang dilaporkan itu viral dulu.
“Ini menjadi koreksi buat seluruh jajaran Polri. Kita minta kepada Kapolri harus tegas terhadap kapolres dan kasat. Agar atau kemudian dievaluasi, boleh sebagus yang mengajukan laporan masyarakat ya,” kata Edi kepada awak media, Selasa, 17 Desember 2024.
Menurut Edi, masalah utama penyebab lambatnya polisi bertindak karena yang di tingkat bawah diduga kerap kali mengabaikan laporan masyarakat.
“Tidak ada alasan buat polisi untuk tidak menunggu, ya. Kadang-kadang yang jadi masalah itu di bawah, pada tataran bawah. Kadang kerap mengacuhkan, dianggap berita (kasus) yang tidak penting ya,” kata Edi.




