Penasihat Khusus Gus Yahya Pernah Mengorganisir Ulama Indonesia ke Israel pada Tahun 2008?

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (tengah) diapit oleh C. Holland Taylor dari CSCV (kiri) dan Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia (kanan), mengeluarkan Komunike R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat, 4 November 2022). (Foto: Istimewa)
Holland Taylor dan Tokoh NU

CSCV ‘dimotori’ oleh Holland Taylor, di mana dia tercatat sebagai CEO lembaga ini.  Taylor juga tercatat sebagai CEO dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di North Carolina, AS, bernama LibforAll.

Berdirinya CSCV maupun LibforAll tak lepas dari riwayat panjang hubungan Taylor dengan tokoh-tokoh NU. Sebagai informasi, Taylor mendirikan LibForAll pada tahun 2003 bersama mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Bacaan Lainnya

Pada tahun 2008, dia dan Gus Dur kembali mendirikan sebuah lembaga bernama al-Mahad al-Dawali lil-Dirasaat al-Qur’aniyya atau Institut Internasional Studi Al-Qur’an (IIQS). Gus Mus, A. Syafii Maarif, dan Nasr Hamid Abu-Zayd dari Mesir ikut terlibat dalam pendiriannya.

LibforAll diklaim sebagai, “bintang penunjuk arah dalam upaya mengalahkan ideologi Islam radikal”.  Lembaga ini mendapat pujian dari The Wall Street Journal (2007), disebut sebagai, “sebuah model tentang bagaimana upaya diplomasi publik yang kompeten di dunia Muslim seharusnya dilakukan”.

Pada tahun 2014—sekitar lima tahun setelah Gus Dur wafat—HT bersama Gus Mus dan Gus Yahya mendirikan Bayt ar-Rahmah. Lembaga inilah yang kemudian bermetamorfosa menjadi CSCV. Bersama Gerakan Pemuda Ansor, Bayt ar-Rahmah pernah meluncurkan sebuah gerakan global yang dinamai “Humanitarian Islam”.

Holland Taylor bersama Produser Film Dominic Jackson dan Yahya Cholil Staquf saat bertemu di Rembang, Jawa Tengah, untuk pembuatan sebuah studio produksi film di Ponpes Roudlatut Tholibin pada tahun 2016. (Foto: Istimewa)

Sebagaimana dilansir situs Bayt ar-Rahmah, saat ini Holland Taylor tercatat sebagai penasihat khusus untuk hubungan internasional bagi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Dia juga terlibat aktif sebagai salah satu advisor dalam Steering Committee (SC) terkait penyelenggaraan acara Forum Religion of Twenty atau R20 pada pada 2-3 November 2023 di Bali.

Dia juga terlibat dalam penyusunan sejumlah dokumen bersejarah bersama Gus Yahya—seperti Deklarasi ISOMIL (2016), Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor mengenai Humanitarian Islam (2017), dan Manifesto Nusantara (2018). Taylor sendiri tercatat telah pergi haji dan berganti nama menjadi Muhammad Cholil.

Fasilitator Israel?

Sementara itu, di bagian lain, menurut Lien Iffah Naf’atu Fina, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Holland Taylor terindikasi pernah mengorganisir ulama Indonesia bertandang ke Israel pada tahun 2008. Kunjungan kali itu berjalan secara klandestin, sehingga tidak menimbulkan heboh publik sebagaimana kunjungan lima (mantan) aktivis NU baru-baru ini.

Lien mengungkap fakta kunjungan tersebut dalam tulisan panjang berjudul Hikmah di Balik Viralnya Kunjungan 5 Intelektual Muda NU ke Israel, yang dimuat di islami.co, pada Selasa, 16 Juli 2024.

Menurut Lien, sebagaimana informasi yang dia terima dari temannya—yang membagi laporan wikileaks—Taylor punya peran besar di balik kunjungan lima ulama Indonesia dari NU dan Muhammadiyah tersebut.

Lien—yang tercatat sebagai mahasiswi Doktoral bidang Islamic Studies di Universitas Chicago, AS—juga mencatat bahwa kunjungan lima pemimpin Muslim moderat di Indonesia ke Israel pada 2-8 Desember 2008 tersebut sempat menimbulkan sedikit gelombang kritik di Indonesia. Beberapa pejabat dan pemimpin agama diam-diam mengritik kunjungan tersebut. Hanya saja, tak seheboh saat ini.

“Kunjungan diam-diam semacam ini, seperti perjalanan serupa oleh jurnalis senior Indonesia pada bulan Oktober (2008), secara efektif mendorong Indonesia untuk melunakkan kebijakan tanpa hubungan yang resmi dengan Israel, meskipun tidak ada tanda-tanda hal itu akan terjadi dalam waktu dekat,tulis Lien.

Lien juga menyebut bahwa yang mengorganisir kunjungan terdebut adalah Holland Taylor. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan The Simon Wiesenthal Center dari Israel.

“Tujuan inisiatif ini adalah untuk melibatkan masyarakat sipil Indonesia dalam mempromosikan pluralisme di Timur Tengah dan melawan ekstremisme,” tulis Lien.

Lalu, apakah keberangkatan lima (mantan) aktivis NU baru-baru ini ada juga hubungannya dengan Holland Taylor—yang saat ini masih tercatat sebagai penasihat khusus hubungan internasional Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf itu?*

Pos terkait