Presiden AS Donald Trump juga meragukan apakah Mojtaba masih hidup. “Saya tidak tahu apakah dia masih hidup. Sejauh ini, tidak ada yang bisa menunjukkan keberadaannya,” kata Trump kepada NBC News.
Kremlin dan Teheran Bungkam, Sinyal Pengakuan?
Di tengah derasnya laporan internasional, Kremlin memilih bungkam.
Juru Bicara Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, dalam konferensi pers di Moskow, Senin (16/3/2026), menolak berkomentar. “Kami tidak mengomentari laporan semacam itu dengan cara apa pun,” ujarnya singkat.
Sementara itu, pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi membantah kabar buruk tersebut.
“Tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi yang baru. Dia baru saja mengeluarkan pernyataan kemarin dan menjalankan tugasnya sesuai konstitusi,” tegas Araghchi.
Pernyataan Araghchi justru memicu lebih banyak pertanyaan. Pidato pertama Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi pada 12 Maret lalu dibacakan oleh pembaca berita televisi pemerintah, tanpa menampilkan sosok Mojtaba sama sekali—sebuah keanehan yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Republik Islam.
Krisis Konstitusional di Tengah Perang
Ketidakhadiran fisik Mojtaba memicu krisis konstitusional yang serius.
Analis menyoroti Pasal 111 Konstitusi Iran yang mengatur pemecatan pemimpin tertinggi jika terbukti “tidak mampu menjalankan tugas konstitusionalnya.”
Seorang pemimpin yang koma dan dirawat di luar negeri secara otomatis kehilangan kualifikasi “kemampuan administratif” yang dipersyaratkan dalam Pasal 109 UUD Iran.
Lebih jauh, dalam budaya politik ultra-konservatif Iran, cedera berat dan cacat fisik seringkali ditafsirkan sebagai hilangnya Farr-e Izadi (cahaya ilahi) atau bahkan “hukuman Tuhan” yang melemahkan otoritas teologis seorang pemimpin di mata ulama Qom.
Dengan ketidakhadiran Mojtaba, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut-sebut beroperasi secara otonom, meluncurkan serangan tanpa komando terpusat dari kepala negara yang efektif.
Ironi Sejarah: Putin Tameng Hidup Mojtaba
Evakuasi ini juga menjadi ironi geopolitik yang pahit.





