Pemecatan KH Marzuqi Mustamar Jadi Bola Liar, Tokoh NU Desak Muktamar Luar Biasa PB Nahdlatul Ulama

Kaleidoskop Sejarah Usulan MLB NU

Dalam AD/ART Nahdlatul Ulama, Bab XXI Permusyawaratan Tingkat Nasional, Pasal 74 ayat (1) menyebutkan: Muktamar Luar Biasa dapat diselenggarakan apabila Rais ‘Am dan/atau Ketua Umum Pengurus Besar melakukan pelanggaran berat terhadap ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Dan dalam ayat (2), MLB bisa diselenggaran atas usulan 50+1% dari jumlah wilayah dan cabang.

MLB seperti yang diyakini banyak orang, adalah pilihan politik tingkat tinggi. MLB tidak akan pernah dilakukan, sebelum para pengurus NU diyakini secara mutlak melakukan pelanggaran-pelanggaran ‘luar biasa’ pula.

Bacaan Lainnya

Sementara dalam Bab XVI Rangkap Jabatan Pasal 51 ayat (1) huruf d disebutkan bahwa jabatan Pengurus Harian Nahdlatul Ulama tidak dapat dirangkap dengan jabatan pengurus harian perkumpulan yang berafiliasi kepada partai politik.

Dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama hasil Muktamar Ke-33 di Jombang, Jawa Timur Bab IX Pasal 22 disebutkan bahwa ada empat Permusyawaratan tingkat nasional dalam Jamiyyah Nahdlatul Ulama.  Permusyawaratan tersebut adalah Muktamar, Muktamar Luar Biasa, Musyawarah Nasional Alim Ulama, dan Konferensi Besar.

Dari keempat permusyawaratan ini, MLB permusyawaratan yang tidak begitu populer. Hanya pada momen-momen penting dan krusial suara-suara tentang MLB dimunculkan.

Berdasarkan riset Samudrafakta, paling tidak ada tiga contoh usulan-usulan dan parktik MLB diadakan di lingkungan NU.

Pertama, adalah setelah Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1994 saat Abu Hasan kalah dari Gus Dur saat pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Abu Hasan kemudian pernah mengadakan MLB mengatasnamakan NU.  Karena tidak didukung oleh mayoritas cabang-cabang ia sangat kesulitan andai saja tidak didukung oleh Presiden Soeharto.

Namun berkat dukungan kekuasaan pada saat itu, Abu Hasan tetap menggelar MLB NU di Pondok Gede, Jakarta, pada Januari 1996. Keabsahan cabang-cabang yang hadir pun dipertanyakan keabsahannya. Dari MLB yang disebut sebagai MLB rekayasa yang didukung rezim kekuasaan saat itu, Abu Hasan kemudian membentuk KPPNU sebagai hasil MLB versinya.

Kedua, MLB juga pernah disuarakan kelompok-kelompok kultural NU menjelang Muktamar NU di Boyolali, Jawa Tengah, pada 2004. Kala itu, warga Nadliyin Yogyakarta yang tergabung dalam Komite Bersama Warga Nahdlatul Ulama (NU) Penyelamat Khittah 1926 Yogyakarta, Sabtu (22/5/2004), mendesak Syuriah Pengurus Besar NU untuk menggelar MLB sebelum pelaksanaan pemilihan umum presiden.

Pos terkait