Pecel, hidangan sederhana khas Jawa Timur, dinobatkan sebagai salah satu salad terenak dunia versi TasteAtlas. Di balik kelezatannya, tersimpan jejak sejarah sejak abad ke-9.
__________
Tak banyak yang menyangka, pecel—menu sarapan rakyat khas Jawa Timur—kini menyabet pengakuan global sebagai salah satu salad terenak di dunia. Situs ensiklopedia kuliner internasional TasteAtlas baru-baru ini menempatkan pecel di urutan ke-8 dalam daftar World’s Best Rated Salads dengan nilai impresif 4,3 dari 5.
Di balik kesederhanaannya—sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge, hingga kol yang disiram bumbu kacang manis-pedas nan gurih—tersimpan kisah panjang yang menjadikan pecel tak sekadar kuliner, melainkan warisan budaya.
Jejak Rasa dari Mataram Kuno
Asal usul pecel bisa ditelusuri dalam Babad Tanah Jawi. Di sana, diceritakan bagaimana Ki Gede Pamanahan, sosok penting dalam pendirian Kerajaan Mataram Islam, dijamu dengan sajian berupa nasi pecel oleh Ki Ageng Karang Losaat singgah di Dusun Taji. Ketika ditanya apa nama sajian itu, Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel,”—artinya daun-daunan yang direbus dan diperas. Dari situlah kata “pecel” lahir.
Tersurat dalam Prasasti, Tersaji di Jamuan Raja
Bukan sekadar cerita tutur, pecel juga tercatat dalam sejumlah peninggalan sejarah. Dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada abad ke-9, era Kerajaan Mataram Kuno di bawah Rakai Watukura Dyah Balitung, disebutkan jenis makanan yang menyerupai pecel. Bahkan, dalam Prasasti Siman dari Kediri tahun 943 Masehi, termuat deskripsi tentang sajian dari daun-daunan rebus yang diolah dengan bumbu rempah—cikal bakal pecel yang kita kenal hari ini.
Hidangan Rakyat yang Naik Kelas
Jejak pecel juga termuat dalam Serat Centhini, karya sastra monumental dari abad ke-19. Dalam kisah pengembaraan Raden Jayengresmi dan kedua santrinya, pecel disebut sebagai bagian dari daftar makanan impian mereka—bersanding dengan sekul pulen, jangan menir, dan mendut. Pecel bukan hanya makanan rakyat jelata, tapi juga hidangan yang disajikan dalam jamuan kerajaan.
Kini, pecel bukan sekadar kuliner tradisional yang bertahan. Ia telah menembus batas dapur dan sejarah, diakui dunia sebagai salad kelas dunia yang lahir dari kearifan lokal, disusun dalam sendok penuh kenangan, dan disajikan dengan bumbu waktu.***





