PBNU Undang Peter Berkowitz ke Forum NU, Gus Yahya Mengaku Tak Tahu Dia Pro-Zionis

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. - Instagram @yahyacholilstaquf
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengaku tidak tahu soal rekam jejak Peter Berkowitz sebagai pembela Zionisme. Ia menegaskan, undangan itu murni untuk bahas hak asasi manusia.

_________________

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akhirnya buka suara soal kehadiran akademisi Stanford, Peter Berkowitz, dalam forum Akademi Kepemimpinan Nasional NU, yang diadakan pada Jumat, 15 Agustus 2025 lalu.

Yahya mengatakan, Berkowitz diundang karena kapasitas akademiknya dalam isu hak asasi manusia. “Saya tertarik karena dia profesor hukum di Stanford. Dia pernah jadi pejabat di Kementerian Luar Negeri Amerika dan pernah membangun wacana tentang hak asasi manusia,” kata Yahya di rumahnya, Jakarta Selatan, Selasa malam, 26 Agustus 2025–dikutip dari Tempo.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pembahasan soal HAM adalah bagian dari rangkaian workshop akhir pekan yang rutin digelar untuk kalangan elite NU. Dalam forum itu, PBNU kerap menghadirkan akademisi dari berbagai negara untuk menjelaskan fenomena global.

Tangkapan layar sebuah acara di Indonesia yang diadakan bareng Peter Berkowitz. Pada keterangannya tampak acara berlangsung pada 24 Agustus 2025. – Tangkapan Layar Realclearpolitics.com

Yahya mengaku tidak tahu bahwa Berkowitz dikenal luas sebagai pembela Zionis. “Selama mengenal Peter hampir lima tahun, belum pernah ada pembahasan mengenai hal itu. Jadi saya mohon maaf sekali kepada masyarakat bahwa saya membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap,” ujarnya.

Ia menegaskan, kehadiran Berkowitz hanya untuk membedah konsep HAM. Tidak ada satu kalimat pun, kata Yahya, yang menyinggung konflik Israel–Palestina. “Lagi pula tidak mungkin kami mengkampanyekan Zionisme di masyarakat,” kata dia.

Meski begitu, publik sudah terlanjur melontarkan kritik keras. Berkowitz memang dikenal sebagai akademisi yang kerap membela Israel.

Pada 2012, ia menulis buku Israel and the Struggle over the International Laws of War, yang berisi pembelaan terhadap Israel dari kritik hukum internasional, termasuk terkait Goldstone Report dan insiden flotila Gaza.***

Pos terkait