Poin terakhir, kesembilan, kata Yasir, tantangan kedepan sangat berat, dan hanya bisa dihadapi dengan persatuan.
“Perubahan iklim yang mengancam kedaulatan pangan, disrupsi digital yang mengancam sendi-sendi keulamaan, keaswajaan dan ke-NU-an, goncangan geopolitik internasional, dan pelemahan serta adu domba dari dalam maupun luar negeri, bila masalah bisa diatasi dengan baik dan persatuan, maka optimistis tantangan berat bisa diatasi,” kata Yasir.
Sementara itu, hingga artikel ini diunggah, belum ada klarifikasi dari PBNU terkait surat undangan tersebut. Samudra Fakta mencoba menghubungi Waketum PBNU KH. Zulfa Musthofa sebagai penandatangan surat undangan, namun belum mendapatkan respons.
Perlu Disikapi dengan Bijaksana
Terkait polemik di tubuh Jatman ini—utamanya terkait kepengurusan dan dugaan pembelokan sejarah pendirian organisasi—pengamat Tarekat Islam dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, menyebut, soal isu pelurusan sejarah dan regenerasi di tubuh Jatman adalah penting, demi masa depan perkembangan organisasi tarekat warga Nahdliyin ini.
Menurut Yon, Kiai Chalwani Nawawi, yang memimpin rombongan kiai tarekat ke PBNU, sebagai sesepuh dan tokoh penting Jatman tentu memahami betul sejarah zaman, dari awal pendirian hingga sekarang. “Tampaknya, beliau melihat ada sesuatu yang kurang pas berkaitan dengan sejarah jatman, sehingga perlu untuk melakukan pelurusan,” ujar Yon kepada Samudra Fakta, dikutip Jumat (13/9/2024).
Terkait masalah kepengurusan Jatman yang cukup lama belum ada pergantian, menurut Yon, perlu diselesaikan dengan bijaksana. “Cara terbaik adalah tentu menjalankan AD/ART,” Kata Yon. Karena, lanutnya, dengan selalu mentaati atau mengikuti landasan di dalam organisasi, maka organisasi dan regenerasi akan berjalan dengan baik.
“Tentu sangat penting untuk perkembangan organisasi ke depan. Karena biar bagaimanapun setiap organisasi pasti memiliki tantangan tantangan zaman yang berbeda antara generasi satu dan generasi selanjutnya” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya UI ini.*





