PBNU Hendak Kumpulkan Pengurus Wilayah Jatman tetapi Pengurus Pusat Menolak, Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh Ormas Ini? 

Rais Aam Idaroh Aliyah atau Pengurus Pusat Jatman, Habib Luthfi bin Yahya, menginstruksikan agar seluruh Pengurus Wilayah Jatman se-Indonesia tidak menghadiri undangan PBNU. (Ilustrasi)

Kedua, Yasir menilai pendekatan PBNU terhadap Jatman kurang tepat. Menurut dia, Jatman adalah organisasi ulama tasawuf yang menjunjung akhlak tasawuf, sehingga penyelesaian dengan menggunakan cara politik kekuasaan tidaklah tepat.

“Mau menyelesaikan masalah di Jatman seperti dengan cara menyelesaikan di PKB tentu tidak pas. Dengan mengundang Idaroh Wustho, tanpa melibatkan Idaroh Aliyah, seolah PBNU mengajari murid-murid tarekat melawan gurunya,” tulis Yasir.

Bacaan Lainnya

Ketiga, menurut Yasir, semestinya masalah Jatman diselesaikan dengan pendekatan keulamaan, bukan dengan hierarki organisasi. “Dalam NU yang ada tidak hanya AD/ART dan formalitas struktur kekuasaan, tetapi juga tradisi keulamaan. Inilah uniknya NU, ada otoritas organisasi, tetapi tidak menafikan otoritas spiritual,” tulis Yasir.

Keempat, Yasir menilai bahwa PBNU hari ini ingin bergerak melesat menjadi organisasi modern rasional—barangkali seperti Muhammadiyah. Namun, menurut dia,  NU tetap harus ingat bahwa basis organisasi kemasyarakatan (ormas) ini adalah kultur pesantren dan spiritual yang berbeda dengan organisasi modern.

Dengan demikian, tulis Yasir, “Apabila ada perbedaan dalam organisasi dan penyelesaiannya menemui jalan buntu, maka tidak bisa diselesaikan dengan cara organisasi modern, karena akan meninggalkan konflik yang tidak berkesudahan. Ada pihak yang disakiti, sementara pesan organisasi NU adalah menjaga persatuan ulama sebagaimana dalam qanun asasi Mbah KH. Hasyim Asy’ari. Maka, alternatif penting yang dimiliki NU adalah penyelesaian dengan kultur pesantren.”

Kelima, Yasir melanjutkan, walau bagaimanapun Habib Luthfi punya banyak jasa kepada Jatman dan NU. “Di bawah kepemimpinan Habib Luthfi, Jatman telah mencapai kemajuan dan prestasi luar biasa dalam hal kepemimpinan spiritualitas, kaderisasi generasi muda, kepemimpin sosial di luar NU, kedekatan dan persatuan dengan TNI-Polri dan umara, pembangkitan semangat ke-NU-an, penggeloraan kecintaan pada kiai-kiai pesantren dan para sesepuh pendahulu, serta kepemimpinan spiritual tingkat internasional,” kata dia.

“Maka,” Yasir melanjutkan, “tidak selayaknya beliau (Habib Luthfi) dengan jasa seperti itu dan sebagai sesepuh atau orang tua diperlakukan secara tidak hormat dengan memotong, tanpa komunikasi, tanpa silaturahmi, seolah Maulana Habib Luthfi sudah tidak ada. Yang demikian bukanlah akhlak Nahdhiyyin terhadap orang tua, sesepuh atau ulamanya.”

Keenam, alasan penyelenggaraan muktamar luar biasa (MLB) atau penunjukan langsung Pengurus Jatman oleh PBNU, dengan alasan Pengurus sebelumnya telah demisioner, menurut Yasir, tidaklah tepat. “Pengurus Jatman baru demisioner sejak September 2023 dan sudah mengajukan surat kepada PBNU di bulan Agustus 2023, agar muktamar bisa diselenggarakan setelah pelantikan presiden,” jelas Yasir.

Yasir juga menyinggung soal GP Ansor, di mana pada masa Yaqut Cholil Qoumas menjadi ketua, kepengurusan badan otonom (banom) NU itu  pernah demisioner selama 4 tahun, di mana harusnya berakhir pada tahun 2020, tetapi baru menyelenggarakan kongres di tahun 2024.

“Maka, upaya PBNU untuk menyelesaikan perbedaan di Jatman hendaknya mengutamakan akhlak-akhlak tasawuf, mengutamakan persatuan, menghindari perpecahan, mengutaman pengendalian diri, dan kesabaran. Hendaknya penyelesainnya melalui mekanisme dan tata tertib yang sudah ada,” tulis Yasir.

Ketujuh, Yasir melanjutkan, persoalan Jatman sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan ulama yang mengedepankan keulamaan serta kasih sayang dan kesabaran, di mana penyelesaian masalah dengan model itu bakal berdampak sangat baik bagi NU, Nahdhiyyin, dan bangsa. “Dan hal tersebut akan menggembirakan Nabi Muhammad Saw,” kata Yasir.

Kedelapan, Yasir juga menegaskan bahwa di grup aplikasi perpesanan WhatsApp atau WA, Pengurus Pusat Jatman tidak pernah menyerang Ketum PBNU atau lembaga PBNU. Juga tidak pernah membalas serangan-serangan dari luar, karena isi Jatman adalah kiai-kiai sepuh, yang menghadapinya dengan pasrah saja, karena mengutamakan adab tasawuf dan keluguan menghadapi disrupsi digital dikalangan sepuh.

Habib Luthfi, menurut Yasir, sering berpesan agar menjaga wibawa pemimpin dan tidak usah menanggapi berita berita di medsos yang akan mengotori hati. “Hal Ini adalah modal untuk menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman dengan musyawarah,” tegas Yasir.

Pos terkait