“Kalau parkir di dalam area makam yang memang gratis dan tidak ada petugasnya, kami imbau warga tetap mengawasi kendaraannya masing-masing. Jika parkir di lokasi yang dijaga petugas resmi, pastikan meminta karcis sebagai bukti pembayaran,” terangnya.
Soal Jasa Perawatan Makam
Terkait isu pungutan lainnya di area makam, Dedik memastikan bahwa tidak terdapat praktik pungutan liar dalam pengelolaan makam. Ia menjelaskan, ahli waris yang menginginkan makam keluarganya dirawat biasanya secara sukarela meminta bantuan warga sekitar dengan memberikan imbalan sebagai jasa perawatan, seperti membersihkan rumput atau merapikan area makam.
“Pemberian tersebut murni atas dasar kesepakatan dan tidak bersifat wajib. Jika ahli waris tidak menghendaki perawatan tambahan, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan pembayaran,” ujar dia.
Selain itu, Dedik menegaskan bahwa larangan meminta-minta, berjualan, maupun mengganggu peziarah di area makam merupakan imbauan untuk menjaga ketertiban serta kekhusyukan suasana. Melalui penegasan ini, DLH Surabaya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan makam yang tertib dan nyaman, sekaligus menutup celah terhadap segala bentuk praktik pungutan liar.
“Peziarah tidak diwajibkan memberikan uang kepada siapa pun. Kalau ingin bersedekah, silakan, tetapi tidak boleh ada unsur paksaan,” tegasnya. ***





