Akibat Kecerobohan dan Mental Korup Oknum Penegak Hukum
Orang-orang tak bersalah yang dipenjara harus terpisah dari keluarga, menanggung cap negatif dari masyarakat, dan kehilangan banyak waktu berharga atas kesalahan yang tak pernah mereka perbuat, gegara ketidakadilan sistem yang semestinya melindungi mereka.
Kenapa semua itu bisa terjadi?
Dikutip dari berbagai sumber, ada dua faktor utama yang membuat orang-orang tak bersalah dibui. Pertama, karena identifikasi yang keliru. Hal ini disebabkan karena, misalnya, saksi mata kurang teliti, rekaman bukti kejadian yang buram, atau ada kesamaan fisik antara pelaku kejahatan sebenarnya dan orang tak bersalah yang dituduh sebagai pelaku.
Aparat keliru mengidentifikasi pelaku sehingga akhirnya menjatuhkan hukuman kepada orang yang tak pernah berbuat kesalahan.
Faktor berikutnya—biasanya ini yang paling marak—adalah rekaya kasus. Oknum aparat penegak hukum yang korup atau ceroboh bisa saja merekayasa kasus untuk menutupi kesalahan mereka sendiri, atau memenuhi “target kinerja yang tidak masuk akal”. Faktor ini biasanya didukung sepenuhnya oleh oknum aparat penegak hukum yang moralnya rusak parah.
Perilaku oknum aparat penegak hukum seperti ini banyak terjadi di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia. Kisah hakim agung nonaktif Mahkamah Agung (MA) Gazalba Saleh, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah ditemukan bukti gratifikasi yang mengalir kepadanya terkait putusan beberapa perkara, mengonfirmasi fenomena tersebut. Ironisnya, dalam rentang waktu setahun, Gazalba sudah dua kali berurusan dengan KPK gegara perkara yang sama.
Selain Gazalba, ada juga koleganya di MA, Soedradjad Dimyati, yang juga terjerat kasus serupa, bareng dengan Sekretaris MA Hasbi Hasan. Baru-baru ini ketua KPK Firli Bahuri harus berurusan dengan Polda Metro Jaya karena diduga telah memeras mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terkait perkara ‘setoran’ di Kementan.
Fenomena-fenomena miris yang mengonfirmasi kecurigaan publik tentang betapa keruhnya dunia penegakan hukum Tanah Air.





