“Mottainai”, Prinsip Anti-Mubazir ala Orang Jepang yang Patut Dicontoh

Ilustrasi orang Jepang sedang melakukan penghormatan sambil duduk simpuh. Masyarakat Jepang memiliki kebiasaan untuk tidak membiarkan apa pun menjadi mubazir. FOTO: Ilustrasi Canva

Aliran ini juga anti-tas plastik. Mereka punya pembungkus sendiri bernama furoshiki, yaitu sepotong kain berbentuk bujur sangkar. Bentuknya seperti taplak.

Pembungkus ini bisa digunakan untuk membungkus dengan berbagai macam variasi bungkusan dan bisa digunakan berulangkali, sehingga tidak mubazir. Beda dengan tas plastik yang hanya sekali atau beberapa kali pakai langsung dibuang.

Bacaan Lainnya

Menggunakan pensil pun juga harus sampai habis. Mereka menggunakan semacam pemegang pensil yang bisa digunakan jika pensilnya sudah pendek. Dengan menggunakan alat tersebut, pensil bisa digunakan sampai habis. Mereka melakukan itu bukan karena miskin, tetapi karena jangan sampai mubazir.

Soal tata ruang pun mereka juga benar-benar memperhitungkan agar jangan mubazir. Misalnya, ruang tamu mereka pasti memiliki jendela yang menghadap ke selatan. Tujuannya agar sinar matahari bisa masuk, sehingga orang bisa membaca, menulis, menjahit, atau melakukan berbagai macam aktivitas dengan penerangan dari sinar matahari. Mereka melakukan itu agar tidak buang-buang listrik untuk penerangan. Biar tidak mubazir.

Ilmu juga jangan sampai mubazir. Misalnya, kalau minat dan bakatnya berdagang, jangan sekolah di bidang yang tidak ada kaitannya dengan perdagangan. Bagi mereka, tidak ada gunanya fasih tiga bahasa tetapi tidak bisa digunakan dalam dunia kerja. Yang seperti itu, menurut penganut Mottainai, disebut pemborosan ilmu atau talenta.■

Pos terkait