Mojtaba Khamenei Terpilih, Pukulan Telak bagi Strategi Trump

Mojtaba Khamenei menyampaikan pidato pertamanya usai terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan almarhum ayahnya, Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan Israel-AS pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu. - Tangkapan layar X.
Majelis Ahli Iran resmi memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump.

Majelis Ahli Iran mengumumkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei, sebagai Rahbar atau pemimpin tertinggi baru Iran, Senin (9/3/2026) dini hari waktu Teheran. 

Keputusan ini diambil di tengah gempuran militer AS-Israel dalam Operasi Epic Fury.

Pemilihan ini menjadi pukulan telak bagi Washington, yang sejak awal berupaya mempengaruhi proses suksesi. Sehari sebelum pengumuman, Trump dalam wawancara dengan ABC News masih percaya diri bahwa AS memiliki kendali atas proses politik di Iran.

Bacaan Lainnya

“Pemimpin tertinggi baru Iran harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump, Minggu (8/3/2026).

Reaksi Trump Berubah Drastis

Pasca-pengumuman, nada Trump berubah. Melalui pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade, ia meluncurkan pernyataan frustrasi. “Saya tidak senang dengan pilihan Iran atas Mojtaba Khamenei,” ujar Trump, 9 Maret 2026.

Mojtaba dikenal sebagai arsitek di balik layar kebijakan garis keras Iran dan memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia juga memiliki dendam pribadi atas serangan yang menewaskan ayah, ibu, istri, dan anaknya dalam serangan 28 Februari lalu.

Analisis: Pilihan Garis Keras di Tengah Krisis

Para pengamat menilai keterpilihan Mojtaba menempatkan AS pada posisi sulit. Mantan diplomat AS Alan Eyre menyebut, “Mojtaba bahkan lebih keras dan lebih garis keras daripada ayahnya. Dia akan membalas dendam besar-besaran.”

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan ini ironi besar bagi Washington. “Ini penghinaan besar bagi AS yang melancarkan operasi sebesar ini, mengambil risiko begitu besar, dan akhirnya membunuh pria 86 tahun, hanya untuk digantikan oleh putranya yang garis keras.”

Pos terkait